SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Stok Rudal AS Terkuras Akibat Konflik Iran, Indo-P...

Internasional

Stok Rudal AS Terkuras Akibat Konflik Iran, Indo-Pasifik Jadi Taruhan

Separuh lebih persediaan rudal pencegat THAAD AS sudah habis terpakai sejak konflik dengan Iran memanas. Pemulihan stok diperkirakan butuh minimal tiga tahun.

Persenjataan AS menipis dengan cepat akibat konflik dengan Iran.

Setengah dari rudal pencegat THAAD milik Pentagon sudah raib. Bukan karena dijual, bukan karena kedaluwarsa, tapi terpakai habis dalam konflik dengan Iran yang belum genap setahun berjalan.

Data dari analisis Centre for Strategic and International Studies (CSIS) melukiskan gambaran yang, jujur saja, cukup mengkhawatirkan. Ketika intensitas pertempuran besar antara AS dan Iran mulai mereda pada April lalu, Pentagon tercatat telah menguras setidaknya separuh stok rudal pencegat THAAD-nya, hampir separuh persediaan rudal Patriot, serta sekitar 30 persen dari arsenal rudal jelajah Tomahawk. Angka yang besar. Tidak mudah diisi kembali.

Pernyataan Trump pada 10 Juli bahwa gencatan senjata dengan Iran "telah berakhir" langsung memantik alarm di kalangan analis pertahanan. Mark Cancian, mantan kolonel Korps Marinir AS yang kini bermarkas di CSIS, mewanti-wanti bahwa bila pertempuran kembali bergejolak dengan intensitas seperti di awal konflik, laju penipisan amunisi bisa membawa risiko serius bagi postur militer AS di kawasan Indo-Pasifik. Bukan peringatan yang bisa diabaikan begitu saja.

Masalahnya bukan sekadar stok yang menipis, tapi seberapa cepat bisa diisi ulang. Saat ini Pentagon hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru per bulan. Untuk THAAD? Kosong. Tidak ada pengiriman yang dijadwalkan sepanjang 2026. CSIS memperkirakan butuh minimal tiga tahun bagi AS untuk memulihkan cadangan ke level sebelum konflik. Tiga tahun, sementara lanskap geopolitik tidak pernah mau menunggu.

Washington bergerak. Pemerintahan Trump mengaktifkan Defense Production Act untuk memangkas birokrasi dan mempercepat kontrak produksi. Beberapa sekutu, termasuk Jerman dan Ukraina, juga didorong memproduksi rudal Patriot di bawah skema lisensi, upaya mendistribusikan beban yang selama ini terkonsentrasi di dalam negeri. Agaknya langkah yang tepat arah, meski para ahli menilai implementasinya berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan situasi.

Timing-nya yang bikin kalangan strategi militer mengernyit. Ketegangan di Selat Taiwan belum benar-benar reda, semenanjung Korea tetap tidak terduga, dan kini Amerika harus memasuki fase geopolitik yang pelik ini dengan lemari amunisi jauh dari penuh. Ibarat masuk gelanggang tinju di ronde ketiga dengan napas sudah setengah habis.

Pertanyaan yang kini menggantung: seberapa besar selera Iran, atau aktor lain di kawasan, untuk menguji batas-batas itu?