SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Stok Rudal AS Menipis, NATO Cemas, Produksi Bersam...

Internasional

Stok Rudal AS Menipis, NATO Cemas, Produksi Bersama Eropa Jadi Jalan Keluar

Dengan separuh stok rudal Patriot habis untuk perang Iran dan pengiriman ke Eropa tertunda, Washington kini membuka opsi produksi rudal bersama di luar negeri sebagai respons darurat.

AS sedang bernegosiasi dengan Eropa untuk memproduksi rudal secara bersama-sama.

Separuh lebih persediaan rudal Patriot Amerika Serikat sudah terkuras, dan Eropa mulai gelisah karena janji pasokan senjata dari Washington terancam tidak terpenuhi, tepat di saat ancaman dari Timur makin nyata.

Pentagon diperkirakan telah menghabiskan sekitar 50% dari total 2.330 stok rudal PAC-3 (Patriot Advanced Capability-3) hingga April tahun ini, sebagian besar tersedot untuk operasi militer melawan Iran. Imbasnya langsung terasa: pengiriman sejumlah paket persenjataan ke sekutu NATO di Eropa tertunda, bahkan sebagian dibatalkan. Bukan barang sembarangan yang tersendat. Tomahawk, Himars, rudal AIM-120C-8, hingga PAC-3 semuanya masuk daftar alokasi yang macet.

Krisis ini meledak di momen yang buruk. Serangan rudal Rusia pada Senin, 6 Juli 2026, menewaskan sedikitnya 21 warga Ukraina dan melukai puluhan lainnya. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa militernya gagal mencegat sekitar 23 rudal balistik Moskow, sebagian karena sistem pertahanan udara NASAMS dan Patriot kekurangan amunisi interseptor. "Alasan dari hal ini justru karena pasokan rudal pencegat yang tidak mencukupi," tulis Zelenskyy dalam pernyataan resminya, seraya mendesak mitra Barat agar KTT NATO di Ankara menghasilkan keputusan konkret. Ia juga menambahkan, "Sangat penting bagi dunia, terutama Amerika dan mitra Eropa kami, untuk keluar dari KTT NATO di Ankara dengan keputusan-keputusan kuat demi mendukung pertahanan langit kami."

Ankara jadi panggung penting pekan ini. Di sela KTT NATO yang berlangsung 7 Juli, Forum Industri NATO menjadi ajang AS dan negara-negara Eropa untuk menandatangani deklarasi niat kerja sama produksi amunisi bersama. Dua proyek yang sedang dinegosiasikan melibatkan rudal Lockheed Martin dan Raytheon, termasuk kemungkinan produksi PAC-3 di luar wilayah AS. Washington secara resmi menyatakan terbuka terhadap opsi itu.

Jika skema ini terwujud, manfaatnya ganda: tekanan pada lini produksi di dalam negeri AS berkurang, sementara kapasitas manufaktur Eropa meningkat. Persis solusi yang selama ini disuarakan para pengkritik ketergantungan pertahanan transatlantik. Trump sudah lama mendorong sekutu Eropa menanggung beban pertahanan mereka sendiri, dan, agaknya, krisis pasokan ini justru mempercepat proses tersebut. Ibarat pedang bermata dua: Washington kehabisan stok, tapi Eropa dipaksa mandiri lebih cepat dari jadwal.

Masif. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan pengurasan amunisi AS setelah serangan ke Iran. Mantan penasihat keamanan nasional AS, Phil Gordon, tidak banyak basa-basi soal situasi ini. Ia menegaskan bahwa kelangkaan senjata bukan soal politik pilih kasih, melainkan keterbatasan fisik yang riil. "AS menembakkan 1.000 Tomahawk di Iran, jadi ini bukannya mereka tidak memprioritaskan Jerman, melainkan rudal itu memang tidak ada," tegasnya. Gordon lalu menarik kesimpulan yang agak pedas tapi sulit dibantah: Eropa harus belajar lebih mandiri dan bersandar satu sama lain.

Pada pertengahan Juni lalu, Trump memberlakukan Defense Production Act untuk mengatasi sumbatan rantai pasokan amunisi, sinyal bahwa kapasitas produksi dalam negeri AS sendiri sedang di bawah tekanan besar. Langkah kooproduksi dengan Eropa bisa jadi respons paling pragmatis yang tersedia saat ini, kalau mekanisme implementasinya bisa dibuktikan berjalan.

Bagi investor yang melirik sektor pertahanan global, dinamika ini punya implikasi yang tidak kecil. Kontrak kooproduksi lintas Atlantik berarti aliran pendapatan baru bagi Lockheed Martin dan Raytheon, sekaligus membuka peluang bagi kontraktor pertahanan Eropa yang selama ini jadi mitra junior. Pertanyaannya: seberapa cepat pabrik-pabrik baru itu bisa beroperasi, sementara Ukraina membutuhkan rudal itu sekarang?