Rp 260.000 per saham. Itu harga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) di Juli 2024. Hari ini, saham Grup Sinar Mas itu cukup dibeli dengan Rp 2.680 per lembar.
Bukan karena DSSA kolaps. Ini efek stock split 1:25 yang resmi berlaku Kamis (9/4). Harga acuan Rp 2.680 dihitung dari harga penutupan kemarin di Rp 67.000, dibagi rasio pemecahan 25. Jumlah saham beredar pun meledak: dari 7,7 miliar lembar menjadi 192,6 miliar lembar. Nilai nominal per saham ikut menyusut dari Rp 25 menjadi Rp 1.
Bukan main.
Ini bukan kali pertama DSSA main stock split. Pada Juli 2024, perseroan sudah lebih dulu memecah saham dengan rasio 1:10, mengubah nominal dari Rp 250 menjadi Rp 25. Kini dengan nominal menyentuh Rp 1, Direktur DSSA Daniel Cahya secara terang-terangan menyebut ini kesempatan terakhir. Tidak ada ruang lagi untuk split berikutnya secara regulasi.
"Harapannya investor ritel semakin dapat mengakses saham DSSA dan perdagangan sahamnya semakin likuid," kata Daniel.
Ada konteks yang lebih besar di balik langkah ini. Sepekan sebelumnya, tepatnya Kamis (2/4), BEI merilis metodologi baru soal kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi alias high shareholding concentration (HSC). DSSA langsung masuk daftar. Berdasarkan struktur kepemilikan per 31 Maret 2026, BEI mencatat sekitar 95,76% saham DSSA dikuasai kelompok pemegang saham tertentu, angka yang mencolok mengingat free float tercatat 20,42% per 10 Februari 2026. Entah kebetulan atau tidak, stock split ini datang tidak lama setelah pengumuman tersebut.
Manajemen berdalih harga yang terlalu tinggi membuat pembelian satu lot saham hanya terjangkau sebagian kecil investor, sehingga likuiditas perdagangan pun terbatas. Argumen yang masuk akal, kalau data ini bisa dipercaya begitu saja.
Soal upaya mendongkrak free float, Daniel menyebut manajemen mempertimbangkan pelepasan saham treasuri. Saat ini DSSA menggenggam 1,51 miliar saham treasuri atau setara 19,68%, dan yang akan dilepas dibatasi maksimal 2%. Tidak masif, tapi setidaknya ada sinyal arah.
Satu hal yang tidak berubah. Bobot DSSA di IHSG tetap jumbo: kapitalisasi pasar perseroan berdasarkan data terakhir BEI masih di kisaran Rp 516 triliun, setara 7% indeks. Stock split tidak menyentuh angka itu sama sekali.
Perdagangan di pasar tunai dengan harga baru baru akan dimulai Senin (13/4). Apakah harga yang lebih "merakyat" ini benar-benar mendatangkan gelombang investor ritel baru? Agaknya kita perlu menunggu beberapa sesi untuk tahu jawabannya.