SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Stimulus Rp26,34 Triliun: Jaga Daya Beli atau Seka...

Ekonomi

Stimulus Rp26,34 Triliun: Jaga Daya Beli atau Sekadar Plester?

Paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang dirancang pemerintah untuk semester II-2026 dinilai tepat sasaran untuk menopang daya beli kelas menengah-bawah, meski efektivitas jangka panjangnya masih jadi tanda tanya.

Stimulus Ekonomi Bisa Sangga Daya Beli Kelas Menengah-Bawah - Market

Pemerintah menggelontorkan paket stimulus senilai Rp26,34 triliun untuk semester II-2026, angka yang cukup besar untuk membuat pelaku pasar yang memantau tren konsumsi domestik berpikir dua kali sebelum mengabaikannya.

Paket ini bukan satu program tunggal. Tiga komponen utamanya mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, dan anggaran magang serta vokasi, masing-masing menyasar segmen berbeda. Alokasi terbesar jatuh ke bantuan pangan: sekitar Rp17,54 triliun untuk menjangkau 33,24 juta penerima sepanjang Juli hingga September. Ditambah subsidi kedelai Rp2.000 per kilogram dengan kuota 250.000 ton sebagai penyangga harga di level petani.

Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, menilai logika kebijakannya sudah benar. Kelompok bawah mengalokasikan porsi besar pendapatan untuk pangan, sehingga bantuan beras dan stabilisasi harga langsung terasa pada ruang belanja harian, bukan sekadar statistik di atas kertas. "Dari sisi perlindungan sosial, kebijakan ini tepat sasaran secara fungsi karena menahan beban biaya hidup saat harga pangan dan energi masih berisiko naik," kata Josua kepada Bloomberg Technoz.

Pertanyaannya: apakah ini cukup untuk menahan tekanan yang lebih dalam?

Bagi pemerintah, stimulus ini bukan respons reaktif semata. Fithra Faisal, Direktur Utama Badan Komunikasi Pemerintah, menyebut paket ini dirancang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang sudah terbentuk sejak kuartal keempat tahun lalu. Soal insentif transportasi yang memanfaatkan momen libur sekolah, Fithra mengklaim hasilnya terukur. "Ketika stimulus transportasi diberikan, sektor akomodasi, makan minum, dan jasa lainnya ikut tumbuh signifikan," paparnya kepada PRO3 RRI. Efek berganda yang, kalau datanya akurat, memang sulit dibantah.

Tekanan dari luar juga jadi alasan pemerintah menyisipkan insentif industri. Impor bahan baku, LPG, plastik, hingga suku cadang pesawat mendapat fasilitas untuk meringankan biaya produksi yang terkerek gejolak geopolitik yang belum juga reda. Skala intervensinya tidak kecil.

Fithra optimistis pertumbuhan ekonomi bisa dijaga di kisaran 5,2 hingga 5,3 persen sepanjang tahun ini. Target yang agaknya masih realistis, asalkan konsumsi domestik tidak ambles di semester kedua. Konsumsi rumah tangga, bagaimanapun, tetap jadi penopang utama PDB Indonesia, dan itulah persis yang coba diinjeksi paket ini.

Bagi investor yang melirik saham sektor konsumer dan ritel, Rp26 triliun lebih yang mengalir ke kantong kelas menengah-bawah bisa jadi katalis jangka pendek. Emiten FMCG, distributor pangan, hingga operator transportasi berpotensi merasakan efeknya. Seberapa dalam serapannya di lapangan? Baru kelihatan di data konsumsi kuartal III nanti.