SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Steve Wozniak Dapat Tepuk Tangan Saat Sindir AI di...

Internasional

Steve Wozniak Dapat Tepuk Tangan Saat Sindir AI di Wisuda, Bos Lain Dicemooh

Saat eksekutif teknologi lain dicemooh saat membahas AI di podium wisuda, Steve Wozniak justru disambut meriah dengan satu kalimat sederhana yang membalik narasi.

Beda dari Bos Lainnya, Pendiri Apple Dapat Tepuk Tangan Saat Bahas AI

Tepuk tangan itu bukan untuk teknologi. Untuk manusianya.

Saat Steve Wozniak, pendiri Apple, naik podium di wisuda Grand Valley State University, Michigan, ia tidak membawa glorifikasi kecerdasan buatan. Ia membawa sesuatu yang agaknya lebih langka di era ini: pengakuan bahwa para lulusan itu sendiri yang cerdas. "Kalian semua punya AI, Actual Intelligence," ujar Wozniak, memancing sorakan yang langsung pecah dari ribuan wisudawan.

Kalimat itu pendek. Tapi dampaknya tidak.

Konteksnya penting. Beberapa bulan terakhir, kampus-kampus di Amerika Serikat jadi arena yang tidak nyaman bagi eksekutif teknologi yang nekat memilih AI sebagai tema pidato wisuda. Di University of Arizona, mantan CEO Google Eric Schmidt justru menuai cemoohan ketika mendorong para lulusan untuk merangkul teknologi itu. "Saat seseorang menawarkan kursi di roket, kalian tidak bertanya kursi yang mana, kalian langsung naik. Para lulusan, roket itu sudah ada di sini," kata Schmidt dalam pidatonya pada 15 Juni 2026. Para wisudawan tak terkesan. Mereka membaca pesan itu sebagai sinyal bahwa karier mereka bisa dilibas otomatisasi bahkan sebelum sempat dimulai.

Reaksi serupa menghantam eksekutif properti Gloria Caufield di University of Central Florida yang menyebut AI sebagai "revolusi industri berikutnya", dan eksekutif musik Scott Borchetta di Middle Tennessee State University yang membahas peran AI dalam produksi musik. Polanya sama: audiens muda, pesan teknologi-sentris, respons negatif.

Wozniak, entah kebetulan atau tidak, membaca ruangan dengan cara yang berbeda.

Bukan hanya soal diksi. Kredibilitasnya di mata generasi muda berangkat dari rekam jejak yang autentik. Sejak masa awal Apple berdiri bersama Steve Jobs, ia konsisten menolak posisi manajemen demi tetap bersentuhan langsung dengan pekerjaan teknis. Ia bukan tipe eksekutif yang bicara soal "ekosistem" dan "disruption" dari lantai 30. Ia insinyur yang kebetulan ikut mendirikan salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Bobot yang berbeda, tentu saja.

Adapun kegelisahan yang ditunjukkan para wisudawan bukan sekadar reaksi emosional. Survei Axios Harris Poll menunjukkan sekitar 42 persen responden dari generasi Z percaya AI berdampak negatif terhadap upah dan peluang kerja mereka, angka yang lebih tinggi dibanding generasi milenial, X, maupun baby boomer. Generasi yang tumbuh dengan TikTok dan ChatGPT, tapi justru paling cemas soal masa depan karier.

Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengambil posisi senior. Yang lebih menghantui: apakah tangga karier paling bawah, posisi entry-level yang selama ini jadi gerbang masuk profesional muda, akan lenyap sebelum sempat mereka pijak?

Di tengah semua itu, Wozniak memilih berpihak pada manusianya. Bukan mesinnya.