Laba bersih PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) tahun 2025 melonjak 122,4% secara tahunan menjadi Rp7,32 triliun, dan manajemen memilih berbagi sebagian hasilnya kepada pemegang saham lewat dividen tunai senilai Rp1,4 triliun atau Rp103,3 per saham.
Keputusan ini disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 18 Mei 2026. Payout ratio yang ditetapkan sekitar 19,12% dari laba bersih, angka yang agaknya sengaja dijaga rendah agar ruang ekspansi tetap terbuka. Sisa laba masuk ke retained earnings, sesuai keterbukaan informasi perseroan di BEI tertanggal 19 Mei 2026.
Bagi yang ingin kebagian, catat tanggalnya. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 26 Mei 2026, ex dividen 29 Mei 2026. Recording date ditetapkan 2 Juni 2026 pukul 16.15 WIB, dan pembayaran dilakukan pada 12 Juni 2026 melalui KSEI.
Yield-nya menarik. Mengacu harga penutupan SRTG pada 19 Mei 2026 di level Rp1.585 per saham, dividend yield tercatat sekitar 6,52%. Ironinya, saham SRTG justru terkoreksi 5,65% di hari yang sama ketika pengumuman dividen ini dirilis. Entah kebetulan atau tidak, koreksi itulah yang membuat angkanya terlihat makin menggiurkan.
Fundamental perseroan sendiri terbilang solid. Pendapatan naik 31,4% YoY menjadi Rp7,02 triliun, EBITDA tumbuh 32,8% YoY ke Rp6,79 triliun. Total ekuitas mencapai Rp59,89 triliun per Desember 2025. Saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya? Rp53,13 triliun. Bantalan modal yang tebal, bahkan untuk ukuran perusahaan investasi sekalipun.
Selain dividen tunai, RUPST juga menyetujui remunerasi Dewan Komisaris sebesar Rp17 miliar untuk tahun buku 2026. Dalam agenda RUPS Luar Biasa, pemegang saham merestui alokasi hingga 6,8 juta saham treasuri untuk dibagikan kepada jajaran Direksi dan karyawan dalam rangka Long Term Incentive Program (LTIP). Saham treasuri yang dipakai berasal dari program buyback yang berlangsung hingga RUPSLB 16 Mei 2024.
Corporate Secretary SRTG Sandi Rahaju menyatakan dividen akan diberikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 2 Juni 2026, dengan ketentuan perpajakan yang berlaku untuk investor domestik maupun asing.
Didirikan Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno pada 1997, SRTG melantai di BEI sejak 2013. Portofolio investasinya tersebar di sektor sumber daya alam, infrastruktur, kesehatan, hingga teknologi digital, dengan nama-nama seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) di antaranya. Laba yang melonjak dua kali lipat lebih dalam setahun, kalau data ini bisa dipercaya, bukan sesuatu yang mudah diabaikan oleh investor yang masih mempertimbangkan masuk ke saham ini.