Hampir 330 juta malam menginap. Itulah angka yang berhasil dibukukan Spanyol sepanjang 2025, menjadikannya bukan sekadar pemimpin pariwisata Eropa, tapi destinasi wisata paling diminati di muka bumi.
Data Visual Capitalist mencatat Eropa meraup lebih dari 1,5 miliar kunjungan menginap wisatawan asing selama tahun yang sama. Konteks historisnya cukup menggelitik: pada 1950, benua ini hanya kedatangan 25 juta turis. Tujuh dekade kemudian, angkanya meledak ke level yang hampir sulit dibayangkan.
Spanyol unggul cukup jauh dari Italia yang bertengger di posisi kedua dengan sedikit di bawah 265 juta malam menginap. Kesenjangan hampir 65 juta malam antara dua teratas ini mempertegas hierarki yang sudah mengakar di peta pariwisata global. Yang agaknya menarik untuk dicermati: protes keras warga lokal soal overtourism yang belakangan marak di kota-kota pesisir maupun pusat kota Spanyol dan Italia sama sekali tidak memberi efek jera bagi para pelancong. Situs sejarah ikonik dan pantai bak kartu pos tetap lebih kuat daya pikatnya ketimbang berita kerumunan dan keluhan penduduk setempat.
Turkiye dan Prancis mengisi posisi ketiga dan keempat, masing-masing menarik lebih dari 150 juta malam kunjungan. Untuk Prancis, ada pergeseran yang patut dicermati. Paris tidak lagi jadi satu-satunya magnet. Musim panas menggiring wisatawan ke French Riviera dan Provence, sementara salju turun membawa pencinta ski ke pegunungan Alpen. Diversifikasi destinasi ini, bisa jadi, justru yang membuat angka Prancis tetap kompetitif.
Inggris menutup lima besar. Data resmi VisitBritain untuk 2025 memang belum dirilis, tapi angka 2024 sudah menyentuh hampir 150 juta kunjungan dan diprediksi naik begitu statistik resmi keluar. Brexit, yang sempat dikhawatirkan mengikis daya tarik Inggris di mata pelancong Eropa maupun global, nyatanya belum terbukti jadi batu sandungan berarti.
Di level makro, World Travel and Tourism Council (WTTC) memproyeksikan sektor pariwisata global tumbuh 3,2% pada 2026, melampaui estimasi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 2,4%. Industri ini juga diperkirakan menyerap sekitar 376 juta tenaga kerja di seluruh dunia tahun depan. Satu dari setiap sembilan pekerjaan yang ada secara global. Bukan sekadar soal liburan, pariwisata sudah lama menjadi mesin ekonomi yang ukurannya kerap diremehkan.
Yunani dan Austria, meski tidak masuk jajaran teratas, konsisten mempertahankan daya tarik mereka di benak wisatawan internasional. Keberagaman budaya dan lanskap alam, setidaknya berdasarkan tren yang ada, menjadi modal jangka panjang yang tidak mudah ditiru kompetitor.
Pertanyaannya buat investor di sektor hospitality dan properti wisata: kalau 1,5 miliar malam menginap belum cukup membuat Eropa jenuh, sampai di mana angka ini akan berhenti naik?