SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Spanyol Berduka, Asia Cuan: Ironi di Balik Gelomba...

Internasional

Spanyol Berduka, Asia Cuan: Ironi di Balik Gelombang Panas Eropa

Lebih dari 150 orang tewas di Spanyol dalam beberapa hari pertama Juli akibat suhu ekstrem, sementara produsen AC asal Asia justru kebanjiran order dari Benua Biru yang selama ini asing dengan pendingin ruangan.

Spanyol laporkan lebih dari 150 kematian terkait suhu tinggi

Spanyol sedang mencatat angka yang tidak ingin mereka torehkan. Lebih dari 150 kematian dalam beberapa hari pertama Juli dikaitkan langsung dengan suhu tinggi, angka yang datang bahkan sebelum gelombang panas resmi kedua musim panas ini benar-benar mencapai puncaknya.

Bukan tiba-tiba. Juni lalu, sistem pemantauan kematian harian MoMo milik Kementerian Kesehatan Spanyol mencatat 1.029 korban jiwa terkait panas, rekor tertinggi sejak sistem itu pertama kali dioperasikan pada 2015. Dalam kurang dari dua minggu awal Juli, lebih dari 150 orang sudah menyusul. Laju kematiannya, jujur saja, mengkhawatirkan.

Di darat, situasinya tidak kalah gawat. Kebakaran hutan menjalar di sejumlah wilayah, termasuk di La Bisbal d'Emporda yang telah melahap sekitar 2.200 hektare kawasan lindung Les Gavarres dengan perimeter api mencapai 40 kilometer. Data satelit dari European Forest Fire Information System mencatat total lahan yang hangus di Spanyol sejak Januari sudah menyentuh 56.000 hektare. Api dan panas datang bersamaan, dan petugas pemadam bekerja di dua front sekaligus.

Organisasi Meteorologi Dunia mencatat Eropa mengalami pemanasan lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata global. Bukan anomali musiman semata. Ini tren struktural.

Di balik krisis itu, ada yang sedang menghitung untung. Samsung Electronics, LG, Midea, hingga Mitsubishi Electric mencatat lonjakan permintaan pendingin ruangan dari seluruh penjuru Benua Biru. Samsung memperkirakan tren tersebut masih akan berlanjut seiring suhu yang diprediksi terus meningkat. "Dengan suhu yang diperkirakan terus meningkat mulai Juni, kami memperkirakan permintaan akan tetap kuat sepanjang puncak musim pendinginan," kata Samsung Electronics. LG sudah mengoperasikan lini produksi AC di salah satu pabrik Korea Selatannya dengan kapasitas penuh sejak April.

Midea, produsen asal China, mungkin yang paling vokal soal angka. Pasar Italia, Spanyol, dan Prancis mencatat pertumbuhan penjualan dua digit sepanjang paruh pertama tahun ini. Pengiriman ke Spanyol dan Prancis melonjak 108% secara tahunan. Penjualan e-commerce di Jerman terkerek 37% pada Mei dibandingkan periode sama tahun lalu. Stok AC portabel PortaSplit mereka bahkan amblas di beberapa jalur distribusi, sampai harga unit bekas melampaui harga produk baru. Pasar sekunder yang lebih mahal dari produk baru. Cukup absurd.

Mengapa Eropa belum siap? Tingkat kepemilikan AC di kawasan ini baru sekitar 20%, jauh di bawah Asia, sebagian karena bangunan tua yang mempersulit instalasi. Biaya pemasangan bisa menembus 1.000 euro, setara Rp 20 juta. Bukan angka ringan bagi mayoritas rumah tangga. Selama puluhan tahun, Eropa tidak butuh AC. Kini kondisi itu berbalik, dan cepat.

Industri perhotelan pun ikut bergerak. Alexandra Dumoulin, Direktur Konsultan HVS, mengatakan AC yang dulunya hanya terkonsentrasi pada properti mewah kini sudah bergeser menjadi kebutuhan pasti untuk semua kategori hotel. "Kita sudah mengalami gelombang panas ini selama kurang lebih satu dekade terakhir. Dan industri perhotelan sudah mulai bergerak, investasi pendingin ruangan di hotel-hotel Eropa telah meningkat secara signifikan," ungkapnya. Hotel tanpa pendingin, tambah Dumoulin, kini lebih sering dihajar keluhan dan rating buruk dari tamu.

Ada ironi yang susah diabaikan: semakin parah krisis iklim melanda Eropa, semakin deras pula keuntungan yang mengalir ke produsen perangkat pendingin di Asia. Permintaan yang lahir dari bencana. Pertanyaannya, berapa lama siklus ini bertahan? Bagi investor yang melirik sektor ini, agaknya belum ada tanda-tanda akan berhenti.