Elon Musk kembali membantah. Kali ini, sasaran sanggahannya adalah laporan Wall Street Journal yang menyebut SpaceX telah memamerkan prototipe ponsel AI kepada sejumlah investor terpilih, beberapa pekan sebelum IPO perusahaan pada Juni 2026 lalu. "Sama sekali tidak benar," tulis Musk singkat di X, Sabtu (4/7/2026).
Pasar tidak menunggu klarifikasi. Saham SpaceX amblas hampir delapan persen dalam satu sesi perdagangan, pukulan yang terasa menyengat mengingat harga saham perusahaan antariksa itu sudah melorot jauh dari puncaknya di USD 225 per lembar, kini bertahan di kisaran USD 150-an. Nyaris seluruh keuntungan sejak IPO sudah terkikis.
WSJ melaporkan prototipe yang dipamerkan mengusung desain lebih tipis dari iPhone, menjalankan sistem operasi proprietary SpaceX, dan memakai chipset Qualcomm Snapdragon. Perangkat itu juga diklaim terintegrasi dengan layanan xAI, termasuk chatbot Grok. Saat dipresentasikan kepada investor, manajemen SpaceX menegaskan produk masih dalam tahap awal dan tidak ada jaminan akan diproduksi massal.
Bantahan Musk bukan yang pertama. Februari lalu, Reuters sudah pernah melaporkan SpaceX tengah menggarap smartphone berbasis Starlink, dan Musk menepis kabar itu. Sebelumnya lagi, dalam sebuah acara di Pennsylvania tahun lalu, Musk bilang ide membuat smartphone "membuat saya ingin mati", lalu menambahkan bahwa mereka tidak akan secara aktif berupaya membuatnya, kecuali terpaksa. Pernyataan yang, entah kebetulan atau tidak, selalu diikuti rumor baru soal gadget SpaceX beberapa bulan kemudian. Pola klasik.
Bulan lalu, Financial Times melaporkan Chief Operating Officer SpaceX Gwynne Shotwell memberi tahu investor bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan rilis layanan seluler di Amerika Serikat yang terhubung ke jaringan satelit Starlink. Beberapa analis bahkan berspekulasi SpaceX akan mengakuisisi T-Mobile. Ada benang merah di sini, meski ujungnya masih kabur.
Reaksi investor yang negatif agaknya bukan sekadar soal satu prototipe ponsel. Para analis menilai langkah ini mencerminkan tekanan yang lebih besar: SpaceX nekat masuk ke arena yang sudah sesak, di mana Apple, Samsung, dan deretan merek China sudah bertahun-tahun membangun ekosistem yang matang. Grok sebagai fitur andalan pun tidak cukup istimewa, karena kompetitor sudah lebih dulu menyematkan model AI ke perangkat masing-masing. Qualcomm Snapdragon? Sudah dipakai hampir semua flagship di pasaran. Tidak ada sisi yang benar-benar eksklusif.
Momentum juga tidak berpihak. Optimus, robot humanoid Tesla, masih terganjal keterlambatan menuju produksi massal. Robotaxi terus dihajar hambatan regulasi dan teknologi. Fluktuasi saham SpaceX yang tajam membuat status Musk sebagai triliuner pertama di dunia terasa seperti gelar yang bisa lepas kapan saja.
Satu hal yang tidak berubah: satu-satunya bisnis SpaceX yang benar-benar mencetak untung saat ini masih Starlink. Bukan roket, bukan gadget. Kalau pun ada strategi masuk ke pasar perangkat konsumen, investor tampaknya ingin melihat rencana yang jauh lebih konkret daripada sebuah prototipe tipis yang belum tentu akan diproduksi. Pertanyaannya, kapan rencana itu datang?