Nilai transaksi pasar smartwatch Indonesia menembus Rp1,26 triliun per Maret 2026, angka yang cukup untuk membuat banyak pelaku industri elektronik melirik ulang segmen yang selama ini dianggap niche.
Data riset Markethac itu mengonfirmasi apa yang sudah terlihat di mana-mana: dari gerbong KRL yang padat hingga kedai kopi di sudut kota, pergelangan tangan masyarakat urban kini lebih sering dihiasi layar digital ketimbang jarum jam analog. Pergeserannya bukan soal gaya semata, melainkan soal fungsi yang makin sulit diabaikan.
Secara global, tren ini terbaca jelas. Counterpoint Research mencatat pengiriman smartwatch dunia tumbuh 4 persen secara tahunan di kuartal pertama 2026, ditopang oleh adopsi perangkat premium dengan fitur pelacakan kesehatan tingkat lanjut. Apple masih memimpin dengan pangsa 23 persen, disusul Huawei yang mengamankan 17 persen lewat diversifikasi produk dan inovasi ekosistemnya.
Namun di Indonesia, peta persaingannya punya warna tersendiri. Pada segmen menengah, rentang harga Rp2 juta hingga Rp3 juta, Huawei dan Garmin praktis memborong lebih dari 80 persen ceruk pasar. Huawei memimpin dengan pangsa 44,77 persen setara 32.400 unit, sementara Garmin mengekor di posisi kedua dengan 38,8 persen atau 26.800 unit. Samsung, Apple, dan Xiaomi masing-masing harus puas dengan kurang dari 6 persen di segmen ini. Mengejutkan, memang, mengingat di pasar global ketiganya jauh lebih dominan.
Sisi permintaan punya ceritanya sendiri. Annisa Ayu, penerjemah 35 tahun asal Bekasi, mengaku beralih ke smartwatch karena kebutuhan praktis di transportasi umum: mengontrol musik dan membaca notifikasi tanpa harus mengeluarkan ponsel di keramaian. "Saya memilih menggunakan smartwatch karena dapat membantu memantau jumlah langkah kaki dan aktivitas harian," tuturnya. Kekhawatiran soal privasi dan keamanan di tempat publik agaknya menjadi pendorong yang kerap luput dari analisis pasar.
Rai, 31 tahun, pekerja swasta Jakarta Selatan, menambahkan dimensi lain. Keterbacaan layar di area minim cahaya, manajemen kualitas tidur, GPS, serta koneksi yang stabil ke ponsel menjadi pertimbangannya sebelum membeli. "Memiliki manajemen kesehatan seperti kualitas tidur, GPS, dan notifikasi yang terhubung ke smartphone sangat berguna," ujarnya. Baterai yang awet dan desain yang tidak norak juga masuk daftar syaratnya, kombinasi yang membuat produsen kelas menengah seperti Huawei dan Garmin lebih unggul dari merek premium di segmen ini.
Aditya, jurnalis teknologi 37 tahun asal Bekasi, membaca tren ini dari sudut yang lebih luas. Ia menilai jam pintar telah menjelma menjadi semacam simbol gaya hidup berbasis data, di mana rekaman detak jantung dan kalori real-time memberikan kepuasan psikologis tersendiri yang memicu konsistensi pemakaian. Bukan sekadar gadget. Tapi Aditya juga menggarisbawahi sisi yang jarang disorot: akurasi sensor yang tingkat presisinya masih bervariasi antar merek dan kelas produk. "Perlu sinergi yang baik antara pengembang teknologi, tenaga medis, dan pembuat kebijakan guna memastikan pemanfaatan smartwatch berjalan efektif, aman, dan inklusif," tegasnya.
Di sisi produk, segmen atas tetap bergerak. Samsung Galaxy Watch9, yang kini beredar di kisaran Rp5,9 juta hingga Rp6,6 juta tergantung ukuran, menawarkan integrasi Gemini untuk akses asisten AI langsung dari pergelangan tangan. Google dan OnePlus juga memperluas pilihan berbasis Wear OS, memperkaya ekosistem Android yang selama ini kalah pamor dibanding watchOS milik Apple.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah smartwatch akan diadopsi luas. Sudah terjawab. Yang lebih menarik: seberapa cepat produsen bisa menutup gap akurasi sensor yang masih menjadi keluhan utama pengguna kelas menengah, segmen yang ternyata paling rewel sekaligus paling besar di pasar Indonesia?