RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Slow Jogging Korea Selatan: Lari Lambat yang Bakar...

Internasional

Slow Jogging Korea Selatan: Lari Lambat yang Bakar Kalori Dua Kali Lipat

Tren slow jogging dari Korea Selatan membuktikan bahwa berlari tidak harus sampai ngos-ngosan untuk efektif membakar lemak. Riset selama 40 tahun jadi pondasinya.

Mengenal Slow Jogging Tren Olahraga Lari Lambat yang Bakar Banyak Lemak

Siapa bilang olahraga efektif harus menyiksa? Di Korea Selatan, slow jogging sedang naik daun, metode lari santai yang secara ilmiah terbukti membakar kalori hingga dua kali lipat lebih banyak dibanding jalan kaki biasa, meski dilakoni dengan kecepatan yang hampir setara.

Perlan, memang. Kecepatannya cuma berkisar 3 hingga 5 kilometer per jam. Tapi justru di situlah rahasianya: dengan ritme yang sangat terjaga, otot-otot besar tubuh dipaksa bekerja konstan tanpa jeda. Bokong, punggung bawah, paha depan, semuanya aktif sepanjang sesi. Pengeluaran energi terjadi diam-diam, sementara napas tetap cukup stabil untuk ngobrol, bahkan tertawa.

Bukan produk viral. Fondasinya dibangun oleh mendiang Profesor Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka, Jepang, seorang akademisi yang menghabiskan lebih dari 40 tahun meneliti mekanisme gerak dan pembakaran energi pada manusia. Agaknya butuh empat dekade untuk membuktikan sesuatu yang terdengar kontraintuitif: berlari lambat bisa lebih efisien membakar lemak daripada berlari cepat.

Efektivitasnya sebagai program penurunan lemak perut inilah yang bikin metode ini meledak di komunitas olahraga Korea Selatan. Bukan sekadar tren estetika. Ini respons nyata terhadap kebutuhan aktivitas fisik yang bisa dijalani jangka panjang tanpa menghajar sendi, terutama bagi yang baru mulai bergerak atau punya keterbatasan fisik tertentu.

Kalori terbakar, tubuh tidak remuk setelah sesi, dan obrolan tetap bisa mengalir. Buat banyak orang, itu lebih dari cukup alasan untuk bertahan.