SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Singapura Jawara, Indonesia Ketiga: Peta Kemakmura...

Internasional

Singapura Jawara, Indonesia Ketiga: Peta Kemakmuran ASEAN 2026

Legatum Prosperity Index 2026 merilis peringkat kemakmuran negara-negara Asia Tenggara. Singapura mendominasi dengan skor 83,83, sementara Indonesia menempati posisi ketiga dengan skor 66,89 yang sedikit tergerus dari tahun sebelumnya.

10 Negara Paling Makmur di Asia Tenggara, RI Peringkat Berapa?

Legatum Prosperity Index 2026 kembali memetakan kesenjangan kemakmuran di Asia Tenggara. Hasilnya tidak banyak mengejutkan siapa pun: Singapura masih berdiri jauh di depan.

Negara kota itu mengunci posisi pertama di kawasan sekaligus peringkat ke-23 dunia, dengan skor keseluruhan 83,83. Angka yang sulit dibantah. Skor pembangunannya mencapai 97,49, sementara aspek kesehatan hampir sempurna di angka 99,14. Standar hidup 98,15 dan pendidikan 93,53 melengkapi gambaran sebuah negara yang memang dibangun untuk efisiensi dan daya saing. Iklim bisnisnya rata-rata berada di 83,49, cermin ekosistem investasi yang, agaknya, belum ada tandingannya di kawasan.

Indeks ini mengukur kemakmuran bukan semata dari ukuran dompet nasional. Legatum mendefinisikannya lewat tiga pilar: pembangunan, kebebasan, dan kondisi sosial. Pendidikan, kesehatan, tata kelola pemerintahan, kesempatan kerja, infrastruktur, lingkungan hidup, semuanya masuk dalam kalkulasi. Cara pandang yang lebih jujur dibanding sekadar membandingkan PDB per kapita antarnegara.

Indonesia? Peringkat ketiga ASEAN, skor 66,89. Turun tipis 0,12 poin dari 67,01 di tahun sebelumnya. Bukan penurunan dramatis, tapi arahnya patut diperhatikan.

Kekuatan Indonesia terletak pada aspek komunitas, yang menorehkan skor 84,99, disusul pendidikan 81,99 dan kohesi keluarga 78,84. Kesehatan berada di 76,47. Fondasi sosial yang relatif solid untuk negara berpopulasi sebesar ini. Dua aspek lain, bagaimanapun, masih tertinggal jauh: standar hidup hanya 61,08, kebebasan 61,90. Bagi sebagian analis, dua angka itulah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia kerap belum terasa merata di lapisan bawah. Entah kebetulan atau tidak, keduanya juga persis aspek yang paling lambat merespons kebijakan jangka pendek.

Selisih Singapura dan Myanmar, yang menutup daftar 10 besar dengan skor 42,76, lebih dari 40 poin. Bukan gap yang bisa dijembatani dalam satu atau dua siklus pemilu. Indonesia sendiri tertinggal sekitar 17 poin dari Singapura, jarak yang tidak akan menyusut dengan sendirinya.

Pertanyaannya sederhana: ke mana momentum itu pergi?

Indeks Legatum mengakui bahwa kemakmuran bukan monopoli negara kaya. Sebuah negara bisa membukukan PDB per kapita tinggi tapi amblas pada aspek kebebasan atau kohesi sosial, dan itu tercermin dalam skor akhirnya. Sebaliknya, negara berpendapatan menengah bisa tampil lebih kompetitif bila tata kelola dan kualitas hidupnya terjaga.

Buat Indonesia, skor yang stagnan dan sedikit tergerus ini agaknya sinyal bahwa laju reformasi struktural belum cukup kencang mengangkat angka di aspek paling lemah. Standar hidup dan kebebasan bukan variabel yang berubah dalam semalam, kalau tidak digarap serius, selisih 17 poin dengan Singapura itu tidak akan menyusut hanya karena waktu berlalu.