SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Setelah Gencatan Senjata Iran: Ekonomi Hampir Stag...

Internasional

Setelah Gencatan Senjata Iran: Ekonomi Hampir Stagnan, Anak-Anak Menanggung Trauma

Gencatan senjata dua minggu antara AS-Iran memberi jeda, tapi tidak menyembuhkan. Dari pasar yang lesu, 140 situs budaya rusak, hingga generasi anak-anak yang kini hidup dalam ketakutan permanen.

Gencatan senjata memang sudah ditandatangani. Tapi siapa pun yang mengira Iran bisa langsung bangkit, agaknya salah baca situasi.

Sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari lalu, Iran menanggung kerusakan yang jauh melampaui hitungan militer. Di Teheran, toko-toko di Pasar Besar memang mulai kembali buka dengan jam operasional lebih panjang, eh, tunggu, hapus itu. Pedagang di sektor logam menyebut kondisi saat ini "hampir stagnan." Bukan pemulihan. Daya beli masyarakat yang tergerus inflasi bertahun-tahun membuat aktivitas jual-beli seolah berjalan di tempat.

Tekanan harga tidak main-main. Harga barang dari distributor naik 20-30% dibanding akhir Januari, kombinasi dari inflasi menahun, gangguan rantai pasok selama konflik, dan ketidakpastian impor yang belum pulih. Ekonomi Iran bukan cuma kena hantam dari luar. Dari dalam juga bocor.

Kerusakan fisik terdokumentasi. Sebanyak 140 situs warisan budaya di 20 provinsi Iran rusak, dengan kerugian awal ditaksir 49 juta dolar AS, sekitar Rp837,4 miliar. Menteri Warisan Budaya Iran Reza Salehi Amiri menegaskan angka itu masih bisa berubah seiring evaluasi berlanjut. Teheran mencatat 63 situs rusak, diikuti Isfahan 23 situs, dan Golestan 12. Itu baru data awal.

Tapi angka paling menyakitkan datang dari korban jiwa. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat setidaknya 3.636 orang tewas, termasuk minimal 254 anak. Pemerintah Iran menyebut angka berbeda: 3.117 jiwa. Selisih yang cukup mencolok antara kedua sumber, dan keduanya patut dicermati.

Di balik angka-angka itu, ada Ali. Lima belas tahun. Kini pintu yang dibanting atau sendok yang jatuh membuatnya terlonjak panik. Para psikolog menyebutnya hiperarousal, sinyal awal gangguan stres pascatrauma. Ia berhenti bergaul dengan teman-temannya. Ayahnya kehilangan pekerjaan. Ibunya terus dihantui kecemasan. "Sebelum perang saya baik-baik saja, tidak mengalami stres. Tapi sekarang, bahkan suara sekecil apa pun membuat otak saya bereaksi begitu berlebihan," katanya. Lebih dari 20% penduduk Iran berusia anak, sekitar 20,4 juta jiwa, dan sebagian besar dari mereka melewati perang ini tanpa perlindungan psikologis yang memadai.

Yang membuat situasi makin pelik: rezim Iran justru mencoba mendorong anak-anak ke barikade. Dalam pidato yang disiarkan televisi, seorang tokoh pemerintah menyerukan orang tua untuk mengirim anak mereka ke pos penjagaan malam hari, menyamakan perang dengan "ujian kejantanan" bagi anak laki-laki. Amnesty International menyebut rekrutmen ini pelanggaran berat hukum internasional, setara kejahatan perang. Ironinya, berdasarkan undang-undang keamanan Iran, perekrutan anak di bawah 15 tahun justru diperbolehkan. Sebuah ketentuan yang secara langsung bertentangan dengan hukum hak asasi manusia internasional, dan tampaknya tidak ada yang berniat mencabutnya.

Dari sisi sentimen publik, ada pergeseran yang tidak bisa diabaikan. Sebagian warga Iran yang semula berharap serangan AS-Israel akan menjatuhkan rezim kini berbalik arah. Leila, 25 tahun, mengaku sempat yakin ini adalah akhir dari Republik Islam. Tapi serangan yang menghantam jembatan, jalur kereta, depot minyak, blok perumahan, bahkan sekolah, mengubah persepsinya. "Mengapa mereka menyerang jembatan? Bagaimana itu bisa membantu mengubah pemerintahan?" tanyanya. Amir, mahasiswa Universitas Teheran, lebih to the point: "Kalian semua lebih buruk satu sama lain."

Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas di awal konflik, tapi rezim tidak runtuh. Putranya, Mojtaba, segera diangkat sebagai pengganti. Gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan baru berjalan, dengan harapan menuju kesepakatan permanen yang lebih luas.

Harapan itu tipis. Di Teheran, banyak orang tidak punya pilihan selain menggantungkan diri padanya.