Empat bank besar Iran tumbang sekaligus pada 23 Juni 2026 setelah gelombang serangan siber terkoordinasi menghantam sistem pemrosesan kartu perbankan mereka, memaksa Export Development Bank of Iran, Bank Melli, Bank Saderat, dan Bank Tejarat menangguhkan seluruh layanan transaksi kartu secara darurat.
Perusahaan Layanan Informasi Iran, ISC, yang mengoperasikan tulang punggung infrastruktur perbankan negara itu, mengonfirmasi serangan menargetkan sistem pemrosesan transaksi kartu. Ini bukan yang pertama bulan ini. Dua pekan sebelumnya sistem perbankan Iran sudah kena hantam serangan serupa, dan kini kejadian terulang dengan skala lebih luas.
Yang membuat insiden ini panas bukan soal teknis perbankan semata, melainkan konteksnya. Serangan terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengizinkan Iran mengakses dana minyak senilai 6 miliar dollar AS, sekitar Rp 106 triliun, yang selama ini dibekukan dan disimpan di Qatar. Trump menegaskan di Truth Social bahwa dana itu hanya bisa dipakai untuk membeli makanan dan kebutuhan medis dari AS. Teheran menolak mentah-mentah. "Iran adalah satu-satunya negara yang memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap aset itu," tegas Ali Bahreini, Duta Besar Iran untuk PBB.
Belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab. Tapi kalangan intelijen dan analis keamanan siber agaknya sudah punya dugaan kuat: Predatory Sparrow. Kelompok peretas yang muncul pertama kali pada 2021 ini sebelumnya dikaitkan dengan serangkaian sabotase terhadap infrastruktur Iran, mulai dari jaringan kereta api, sistem distribusi bahan bakar, pabrik baja Khouzestan, hingga Bank Sepah. Setelah sempat menghilang pasca perang Juni 2025, kelompok ini diduga kembali aktif.
Ronen Solomon, mantan penasihat unit intelijen Kementerian Pertahanan Israel, tidak sungkan menyebut afiliasi kelompok ini kepada The Telegraph. "Predatory Sparrow terkait dengan Unit 8200 IDF. Kelompok itu dikenal sebagai nama samaran untuk aktivitas Israel," ungkap Solomon. Pencairan dana Iran, menurutnya, jadi pemicu utama. Israel dan badan intelijen Barat ingin memperlambat kemampuan Teheran memanfaatkan dana itu untuk memulihkan program nuklir dan misilnya, termasuk kemungkinan mengalirkan sebagian ke Hizbullah untuk kebutuhan personel, senjata, dan pelatihan.
Seorang sumber keamanan anonim yang berbicara kepada The Telegraph lebih blak-blakan. "Waktunya sangat tepat dan memiliki ciri operasi Israel yang direncanakan dengan baik untuk menyabotase kesepakatan yang sedang berjalan, yang bagi Israel merupakan sebuah bencana," katanya. Kesepakatan awal AS-Iran yang ditandatangani pekan lalu memberi kedua belah pihak 60 hari untuk merampungkan perjanjian damai jangka panjang. Sejumlah isu krusial masih diperdebatkan: program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan konflik Israel-Hizbullah di Lebanon. PM Israel Benjamin Netanyahu disebut-sebut sama sekali tidak dilibatkan dalam pembahasan isi kesepakatan itu.
Ketegangan juga meruncing soal inspeksi nuklir. Wakil Presiden AS JD Vance mengklaim Teheran sudah setuju menerima inspektur IAEA di lokasi yang pernah dibom Amerika selama "perang 12 hari" pada 2025. Iran membantah dan menyatakan tidak akan mengizinkan inspektur masuk setelah perundingan di Swiss berakhir. Trump turun tangan, menegaskan Iran telah "sepenuhnya" menyetujui akses inspeksi. Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan.
Gambaran dari sisi Israel justru terbalik: bukan mereka yang menyerang, melainkan mereka yang dihajar. Yossi Karadi, Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel, mengungkapkan kepada harian Jerman Die Welt bahwa insiden siber bermusuhan dari Iran terhadap Israel melonjak tiga kali lipat, dari sekitar 1.600 insiden pada Juni 2025 menjadi 4.800 insiden pada Juni 2026. Targetnya luas: infrastruktur kritis, organisasi pemerintah, hingga firma hukum dan kantor akuntan swasta. "Tidak seperti di ranah kinetik, tidak ada gencatan senjata di dunia maya," kata Karadi.
Dua negara yang sedang dalam proses damai, tapi perang siber di antara mereka justru makin sengit. Pertanyaannya, berapa lama kesepakatan 60 hari itu tahan kalau di bawah permukaannya, serangan tak pernah berhenti?