RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Serangan Israel ke Suriah: Strategi Keamanan atau...

Internasional

Serangan Israel ke Suriah: Strategi Keamanan atau Kalkulasi Pemilu?

Jet tempur Israel menyerang pangkalan udara Turki di Suriah utara, memantik perdebatan sengit: apakah ini respons ancaman nyata, atau manuver politik Netanyahu jelang pemilu Oktober?

Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Soroti Turki sebagai Ancaman

Papan reklame raksasa di jalan utama Tel Aviv itu memajang wajah Erdogan berdampingan dengan pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, petinggi Hizbullah Naim Qassem, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani. Di bawah foto-foto itu, satu kalimat: "Mereka ingin Netanyahu kalah. Jangan biarkan mereka menang." Pesannya keras dan tidak ambigu, persis seperti gaya kampanye Benjamin Netanyahu yang sudah dikenal puluhan tahun.

Beberapa hari sebelum reklame itu terpampang, jet tempur Israel menghantam pangkalan udara Abu al-Dahar di Suriah utara, menyasar apa yang diklaim Tel Aviv sebagai persiapan peningkatan kehadiran militer Turki di kawasan tersebut. Seorang sumber militer Israel mengungkapkan kepada CNN bahwa intelijen IDF telah mengumpulkan informasi soal rencana Ankara mengerahkan personel, drone, dan sistem pertahanan udara ke lokasi itu. Kehadiran militer Turki di sana, menurut sumber yang sama, dapat membatasi ruang gerak Israel di wilayah udara Suriah sekaligus mengubah keseimbangan strategis kawasan secara fundamental.

Secara resmi, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan serangan itu murni operasional. Informasi intelijen tersebut telah disampaikan kepada pemerintahan Trump dan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa. Selama setahun terakhir, Israel dan Suriah memang sudah menjalankan pembicaraan untuk mencegah benturan langsung, dan Netanyahu menyebut kedua pihak telah mencapai semacam status quo keamanan. Kepala Mossad Roman Goffman bahkan dilaporkan bertemu Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani di Yordania pada 23 Agustus lalu untuk meredakan ketegangan terbaru.

Tapi waktu terjadinya serangan ini sulit diabaikan. Pemilu legislatif Israel tinggal hitungan minggu. Netanyahu, yang membangun seluruh karier politiknya di atas citra "Mr. Security", kini lagi-lagi mengedepankan ancaman eksternal sebagai tema utama kampanye. Bukan kali pertama.

Kritik paling tajam justru datang dari Washington, bukan dari ibu kota Arab. Tom Barrack, utusan Presiden Trump untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, terang-terangan menyebut serangan itu sebagai eskalasi yang tidak perlu. Dalam wawancara dengan podcaster Mario Nawfal, Barrack menduga ada kepentingan politik di balik operasi militer tersebut, ia menyebut Israel sekadar mencoba memancing Turki, langkah yang sangat agresif tapi bisa menguntungkan secara elektoral. Kritik terbuka seperti itu dari pejabat Amerika terhadap Israel terbilang langka. Justru karena itu, bobotnya terasa berbeda.

Ankara memilih nada yang jauh lebih keras. Turki menolak total penjelasan Israel dan menyebutnya tidak dapat dipertahankan. Pemerintah Erdogan menuduh Netanyahu menjalankan agenda ekspansionis dan sengaja mengguncang stabilitas kawasan demi kepentingan pemilu Oktober. Bagi Ankara, ini bukan sekadar soal satu pangkalan udara.

Konteks kawasan memang sedang tidak sederhana. Wilayah Golan yang berbatasan dengan Suriah tetap menjadi titik paling sensitif dalam peta konflik Timur Tengah. Setiap peningkatan aktivitas militer di sekitarnya bisa dengan cepat menyeret lebih banyak aktor, dari kelompok bersenjata yang beroperasi di Suriah hingga Iran yang selalu menunggu celah. Kemampuan rudal strategis Turki yang mulai diperbincangkan hanya menambah lapisan kecemasan. Makin keruh, makin susah dibaca.

Satu variabel lain yang kerap luput: Pentagon disebut berencana menghentikan bantuan militer bagi pasukan Kurdi Peshmerga di Irak mulai 30 September. Jika benar terealisasi, kekosongan keamanan yang ditinggalkan bisa segera diisi oleh Iran dan kelompok-kelompok pro-Teheran yang memang sudah lama beroperasi di sana. Bisa jadi kebetulan. Agaknya bukan.

Apakah Netanyahu benar-benar melihat Turki sebagai ancaman strategis yang mendesak? Bisa jadi. Tapi rekam jejaknya sebagai politikus yang piawai memanfaatkan krisis demi keuntungan elektoral membuat pertanyaan itu sulit dijawab dengan mudah, bahkan oleh sekutu-sekutunya sendiri. Pertanyaannya, berapa lama pemisah antara kalkulasi keamanan dan kalkulasi suara masih bisa dibaca dari luar.