MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Serangan Israel ke Suriah Panaskan Ketegangan deng...

Internasional

Serangan Israel ke Suriah Panaskan Ketegangan dengan Turki

Israel melancarkan empat serangan udara ke pangkalan militer di Idlib, Suriah, memicu eskalasi ketegangan dengan Ankara yang berpotensi meluas ke konflik terbuka.

Israel Hits Syria With New Strikes and Ground Raid as Tensions Soar - The New York Times

Empat serangan udara Israel menghantam pangkalan udara militer Abu al-Duhur di Idlib, Suriah, dalam satu rangkaian operasi yang kini menjadi titik nyala baru hubungan Tel Aviv dengan Ankara.

Serangan itu bukan sekadar aksi militer terhadap Suriah yang militernya masih jauh dari pulih. Turki, yang punya kepentingan strategis besar di wilayah utara Suriah, membaca langkah Israel sebagai provokasi serius. Damascus sendiri memilih tidak membalas secara militer, menyadari keterbatasannya, dan mengambil jalur diplomasi dengan melaporkan insiden ke Dewan Keamanan PBB.

Suriah, jujur saja, belum punya gigi yang cukup untuk menghadapi angkatan udara Israel secara frontal. Militernya masih dalam proses rekonstruksi pasca konflik panjang, sehingga respons bersenjata hanya akan memperburuk posisi Damascus. Pilihan diplomatik adalah satu-satunya kartu yang masuk akal.

Yang membuat situasi ini jauh lebih pelik adalah ketegangan yang menyertanya antara Israel dan Turki. Data Global Firepower 2026 menempatkan Turki di posisi ke-9 dari 145 negara dengan skor Power Index 0,1975, sementara Israel di peringkat ke-15 dengan skor 0,2707. Skor yang lebih kecil berarti kekuatan lebih besar, dan dalam perbandingan ini Turki unggul secara agregat.

Keunggulan Turki paling terasa di sektor darat dan sumber daya manusia. Dengan populasi 84,1 juta jiwa berbanding Israel yang sekitar 9,4 juta, basis mobilisasi kedua negara tidak sebanding. Personel aktif Turki mencapai 481 ribu prajurit, hampir tiga kali lipat 169.500 milik Israel, meski Israel mengimbangi dengan pasukan cadangan 465 ribu orang yang melampaui cadangan Turki di angka 380 ribu. Di medan darat, Turki mencatat 2.284 tank berbanding 1.300 milik Israel, dengan kendaraan lapis baja hampir dua kali lipat lebih banyak.

Udara adalah cerita berbeda. Israel hanya punya 597 pesawat militer total, jauh di bawah 1.101 milik Turki. Tapi dari komposisi pesawat tempur murni, Israel justru berbalik unggul: 239 berbanding 201. Ditambah 45 pesawat serang khusus dan 13 tanker udara, kemampuan proyeksi kekuatan jarak jauh Israel sulit ditandingi. Tanker itu bukan detail teknis biasa. Kemampuan refueling di udara yang memungkinkan jet tempur Israel menjangkau target jauh dari perbatasan tanpa harus mendarat terlebih dahulu adalah keunggulan asimetris yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Turki membalas dengan dominasi di helikopter: 509 unit termasuk 111 unit serang, dibandingkan 127 helikopter Israel dengan 48 unit serang. Keunggulan ini relevan untuk operasi darat intensitas tinggi dan perang konvensional berkepanjangan.

Pertanyaannya, seberapa jauh kalkulasi itu bisa berubah?

Satu variabel yang belum masuk perhitungan adalah Pakta Makkah. Jika kesepakatan itu benar-benar memicu dukungan militer Arab Saudi dan Pakistan ke pihak Turki dalam skenario konflik terbuka, peta kekuatan bergeser drastis. Pakistan sendiri adalah kekuatan nuklir dengan angkatan darat besar dan berpengalaman. Bisa jadi skenario inilah yang paling membuat Tel Aviv gelisah.

GFP sendiri mengingatkan bahwa indeks mereka hanya cerminan teoretis kekuatan konvensional, bukan prediksi hasil konflik. Teknologi, intelijen, dukungan sekutu eksternal, dan arsenal nuklir Israel yang tidak pernah dikonfirmasi secara resmi adalah variabel yang tidak tertangkap angka mana pun. Perang di atas kertas jarang mencerminkan perang di lapangan.