RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Senkaku Memanas, Manila Bergolak: Dua Titik Api di...

Internasional

Senkaku Memanas, Manila Bergolak: Dua Titik Api di Asia Pasifik

Kapal penjaga pantai China dan Jepang terlibat insiden di perairan Senkaku yang disengketakan, sementara Filipina bergulat dengan sidang pemakzulan Wapres Sara Duterte yang bisa mengubah peta politik kawasan.

China dan Jepang Saling Klaim Insiden di Sekitar Kepulauan Senkaku

Dua titik panas di Asia Pasifik menyala hampir bersamaan pekan ini, dan keduanya punya implikasi yang jauh melampaui batas geografisnya.

Dari Laut China Timur, versi yang saling menegasikan datang dari Beijing dan Tokyo soal insiden Selasa (7/7/2026) di sekitar Kepulauan Senkaku. Penjaga Pantai China mengklaim telah mengusir kapal nelayan Jepang yang "secara ilegal memasuki perairan teritorial" gugusan pulau yang mereka sebut Diaoyu. Tokyo punya cerita berbeda: otoritas Jepang justru menyatakan pihaknyalah yang mencegat dan mengusir dua kapal penjaga pantai China yang mendekati kapal nelayan berawak dua orang milik warga Jepang.

Bukan main bedanya. Dua pihak, satu insiden, dua cerita yang saling mematikan satu sama lain.

Ini bukan episode baru. Perairan Senkaku sudah lama jadi arena adu otot Beijing dan Tokyo, kapal patroli kedua negara saling berhadapan secara rutin sambil masing-masing mengklaim kedaulatan atas gugusan pulau di Laut China Timur itu. Jepang menegaskan kehadiran kapal China di zona tersebut melanggar hukum internasional, dan Tokyo menyatakan akan merespons "dengan tenang dan tegas" sesuai hukum internasional maupun regulasi domestik. Pernyataan yang kedengaran santun, tapi nadanya jelas.

Di Manila, drama yang sedang berlangsung tidak kalah sengitnya. Wakil Presiden Filipina Sara Duterte resmi menghadapi sidang pemakzulan di Senat, sebuah proses yang diperkirakan berlangsung berbulan-bulan dan bakal menyedot perhatian negara berpenduduk 113 juta jiwa itu.

Taruhan politiknya besar. Jika dibebaskan, Duterte, yang kini memimpin sejumlah survei untuk pemilihan presiden 2028, bisa tampil dengan "rasa pembenaran" yang justru semakin membakar semangat pendukungnya, menurut Alan German, Presiden perusahaan konsultan Agents International Inc. Sebaliknya, persidangan panjang yang membuka penyimpangan ke publik hanya akan menggerus citranya.

Perhitungan suara di Senat masih gelap. Kubu Duterte kehilangan kendali atas Senat setelah seorang anggotanya ditangkap dalam kasus korupsi dan beberapa senator lain membelot, meski sembilan anggota yang tersisa secara teknis masih cukup untuk menggagalkan pemakzulan. Untuk memvonis bersalah, konstitusi mensyaratkan dukungan dua pertiga dari 24 senator. "Jika cukup banyak senator pro-Duterte memandang lebih bijaksana meninggalkan kubunya karena diyakinkan oleh beratnya dugaan pelanggaran, pihak yang mendukung pemakzulan bisa mencapai 16 suara," ujar Yuko Kasuya, profesor Universitas Waseda sekaligus pakar politik Filipina.

Angka 16. Masih kurang dari ambang dua pertiga.

Senator Imee Marcos, saudara kandung Presiden Marcos yang kini merenggang hubungannya dengan sang presiden, menyebut upaya pemakzulan ini "sia-sia." Senator Risa Hontiveros, yang tidak berpihak pada kubu mana pun, lebih berhati-hati: "Siapa yang tahu? Semua prediksi bisa saja meleset."

Dimensi geopolitiknya tidak bisa diabaikan. Marcos selama ini mempererat hubungan Filipina dengan Amerika Serikat untuk menghadapi sikap China yang makin agresif di Laut China Selatan, termasuk menyerahkan Rodrigo Duterte ke Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag. Sara Duterte punya kecenderungan sebaliknya, dan pernah mengkritik Marcos tidak memiliki "kebijakan luar negeri yang benar-benar independen." Siapa yang berkuasa di Manila setelah 2028 akan sangat menentukan ke mana Filipina bersandar, ke Washington atau Beijing.

Bagi investor, agaknya ini bukan waktu untuk lengah. Peso Filipina sudah tergerus 4% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, sementara pasar saham hanya naik 2%, jauh tertinggal dari kenaikan 21% indeks acuan Asia MSCI. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, ketidakstabilan politik historis Filipina, yang pernah memaksa Presiden Estrada tumbang pada 2001 di tengah kegagalan sidang pemakzulan, punya cara tersendiri untuk mencekik aset-aset finansial negara itu.

Dua medan ketegangan, satu kawasan. Bagi portofolio yang terpapar Asia Pasifik, keduanya sudah masuk radar.