Harga minyak Brent ditutup di US$88,52 per barel pada perdagangan Sabtu (15/8/2026), menguat US$1,45 atau 1,67% dalam sehari. WTI menyusul naik 1,42% ke US$82,40 per barel. Dalam sepekan, dua patokan harga minyak global itu sudah melesat masing-masing 6% dan 5,4%, karena pasar makin cemas dengan apa yang terjadi di Selat Hormuz.
Pemicunya bukan satu peristiwa. Serangkaian kejadian datang bertubi-tubi: dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) diserang saat melintas Selat Hormuz pada Kamis malam, lalu keesokan harinya UEA menuduh Iran menyerang kapal ketiga milik ADNOC. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan sebuah kapal curah kena proyektil tak dikenal di lambungnya di selat yang sama. Dari arah berbeda, ekspor minyak mentah Rusia dari terminal Sheskharis di Pelabuhan Novorossiysk, Laut Hitam, ikut terhenti setelah serangan drone Ukraina pada Jumat. Dua jalur ekspor besar lumpuh sekaligus dalam 48 jam.
"Berita utama yang mendorong kenaikan harga adalah serangan terhadap kapal tanker," kata analis senior Price Futures Group Phil Flynn. Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow menambahkan bahwa kondisi ini bisa memicu situasi jauh lebih serius apabila lalu lintas di Selat Hormuz terus dibatasi, mengingat jalur itu pintu keluar bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Angka 20% itu terdengar abstrak, sampai data IEA yang dikutip World Bank Commodity Markets Outlook menyodorkan gambaran yang lebih brutal. Ketika Selat Hormuz praktis tertutup pada Maret 2026, sekitar 10,1 juta barel minyak amblas dari pasar global dalam sehari. Rekor baru. Revolusi Iran 1978-1979 yang selama ini dianggap sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern "hanya" menyingkirkan 5,6 juta barel per hari. Embargo Arab 1973 dan invasi Irak ke Kuwait 1990 masing-masing di kisaran 4,3 juta barel. Hampir dua kali lipat krisis terburuk dalam lima dekade terakhir.
Sekarang, kondisinya masih jauh dari pulih. Data pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintas Hormuz pada Jumat tanpa ada pengiriman minyak mentah yang terdeteksi. Sebelum konflik, rata-ratanya 130 kapal per hari. Bak jurang antara dua era. Kapal-kapal yang nekat melintas tanpa izin Tehran menghadapi risiko rudal atau drone. Iran terang-terangan menegaskan bahwa selat itu hanya akan dibuka dan ditutup atas komando mereka.
Diplomasi, jelas, sudah jalan buntu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut Tehran belum memutuskan untuk kembali berdialog dengan Washington. Syaratnya terang: AS harus memenuhi persyaratan soal Selat Hormuz agar lalu lintas kapal bisa pulih. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi bahkan menegaskan di platform X bahwa blokade akan terus diberlakukan selama AS tidak menerima realitas kekalahan.
Trump bergerak ke arah sebaliknya. Di hadapan pendukungnya di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026), ia mengklaim bahwa setelah konflik selesai, Selat Hormuz akan dideklarasikan sebagai wilayah Amerika Serikat. Juru bicara Tehran langsung bereaksi keras. Trump juga meminta rakyatnya bersiap membayar lebih mahal di pompa bensin, menyebut kenaikan harga BBM sebagai "harga yang pantas" untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Harga rata-rata bensin di AS sudah tembus US$4,08 per galon pada Jumat, naik 29% dari tahun sebelumnya.
Lipow memperkirakan konsumenlah yang paling dihajar jika hambatan berlanjut. "Jika harga minyak mentah sekitar US$80 per barel, tetapi harga diesel US$180 per barel dan bensin US$130 per barel, kondisi itulah yang berdampak kepada konsumen," ujarnya.
Dampak ekonomi juga mulai menggerogoti Iran dari dalam. Presiden Masoud Pezeshkian menuding blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi ekspor minyak sebagai biang inflasi yang melanda negaranya. Adapun Menteri Keuangan AS Scott Bessent berjanji menambah tekanan pada Tehran pekan depan.
Agaknya pasar sudah menghitung bahwa ini bukan insiden jangka pendek. OPEC memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak dunia akan melambat, dan persediaan minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari 3,5 tahun. Dua sinyal yang seharusnya menekan harga. Brent tetap menguat. Kalau data ini bisa dipercaya, itulah ukuran seberapa serius pasar menilai krisis di Hormuz.