Harga solar industri non subsidi di Indonesia nyaris dua kali lipat dalam sebulan. Dari kisaran Rp 14.200 per liter, kini menembus Rp 26.000 hingga Rp 27.900 per liter pada Mei 2026. Kenaikan 77 hingga 84 persen itu bukan angka kecil, dan pelaku industri yang belum mengunci kontrak pasokan energi jangka panjang agaknya sudah merasakan dampaknya langsung ke struktur biaya.
LPG industri pun tak kalah dihajar. Tabung 50 kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp 850.000 kini dibanderol mendekati Rp 1,07 juta per tabung, naik sekitar 25 hingga 26 persen. Penyesuaian ini mengikuti pergerakan CP Aramco, acuan harga LPG global, yang terseret naik bersama minyak mentah.
Akar masalahnya satu: geopolitik. Ketegangan di Selat Hormuz, jalur distribusi sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia, menciptakan tekanan yang lebih banyak bersifat psikologis ketimbang fisik. Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyebut kenaikan ini sebagian besar dipicu faktor non-fundamental, alias sentimen dan kekhawatiran gangguan pasokan. "Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," ujar Komaidi.
Masalahnya, faktor non-fundamental susah dimodel. Tidak ada yang bisa bilang kapan tensi Iran-AS-Israel mereda. Atau kapan Hormuz kembali aman sepenuhnya.
Dampaknya menjalar ke seluruh rantai energi berbasis gas. Indeks Japan Korea Marker (JKM), acuan harga spot LNG Asia, melonjak sekitar 111 persen sepanjang 2026. Japan Customs-Cleared Crude (JCC) yang menjadi patok kontrak jangka panjang terkerek 97 persen. Indonesian Crude Price (ICP) April 2026 pun tercatat hampir dua kali lipat dibanding rencana awal tahun, naik 99 persen dari asumsi semula. Angka yang tidak main-main.
Sepanjang kawasan ASEAN, gambarannya serupa. Vietnam membayar sekitar 27,81 dollar AS per MMBtu untuk gas dari pasar spot Asia. Filipina di kisaran 28,50 dollar AS per MMBtu. Singapura, sebagai hub LNG regional, mencatat harga yang jauh lebih tinggi: sekitar 40 dollar AS per MMBtu untuk sektor industri, dan mendekati 47,54 dollar AS per MMBtu untuk retail umum. Indonesia, dengan harga LNG domestik yang "relatif terlambat disesuaikan" menurut Komaidi, kini bergerak mengejar ketertinggalan itu.
Pemerintah bergerak. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengonfirmasi Indonesia aktif menjajaki sumber impor minyak mentah dari luar kawasan Timur Tengah. Nigeria dan sejumlah negara Afrika sudah mulai digarap lebih serius. "Kita dari Nigeria, negara-negara Afrika. Jadi, sumber-sumber lain non-Selat Hormuz," kata Laode.
Data BPS Januari 2026 memperlihatkan Angola sudah menjadi pemasok terbesar minyak mentah Indonesia, menguasai 22 persen dari total impor 2,52 juta ton. Arab Saudi di posisi kedua dengan 20,44 persen, disusul Nigeria di urutan ketiga dengan pangsa nyaris sama: 20,39 persen. Brasil dan Australia melengkapi daftar pemasok utama.
Komitmen pembelian minyak Rusia sebesar 150 juta barel juga disebut mulai masuk secara bertahap hingga akhir tahun. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan prioritasnya jelas: memastikan stok domestik tetap aman.
Strategi diversifikasi ini ibarat pedang bermata dua. Indonesia memang mengurangi ketergantungan pada jalur Hormuz yang rawan. Tapi biaya logistik dari Afrika dan Rusia jelas tidak lebih murah ketimbang Timur Tengah yang secara geografis lebih dekat. Selisih itu, cepat atau lambat, masuk ke dalam kalkulasi harga BBM non subsidi yang terus bergerak mengikuti pasar.
Bagi investor sektor manufaktur dan logistik yang sensitif terhadap biaya energi, ini sinyal yang layak dicermati. Tekanan margin bisa datang lebih cepat dari yang diperhitungkan dalam proyeksi kuartal ini. Kalau data ini bisa dipercaya, situasinya belum akan mereda dalam waktu dekat.