JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Selat Hormuz Masih Terkunci, Iran Tunggu Langkah A...

Internasional

Selat Hormuz Masih Terkunci, Iran Tunggu Langkah AS

Iran dan Oman telah mencapai kesepahaman soal pengaturan transit di Selat Hormuz, tapi implementasinya bergantung penuh pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat.

IntelBrief: Tanker Blasts in the Gulf of Oman Escalate Tensions Between U.S. and Iran - The Soufan Center

Kesepahaman sudah ada di atas meja, tapi Selat Hormuz belum akan dibuka dalam waktu dekat. Iran dan Oman dikabarkan telah merampungkan pembahasan soal pengaturan transit kapal di jalur strategis itu, namun Teheran menegaskan seluruh mekanisme baru bisa berjalan kalau Washington lebih dulu memenuhi komitmennya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, tidak berputar-putar soal ini. "Implementasi kesepahaman ini membutuhkan pihak lain, khususnya AS, untuk memenuhi komitmennya. Kapan pun komitmen ini diimplementasikan, Iran juga akan mengambil tindakannya," tegasnya, dikutip dari kantor berita Anadolu, Minggu (30/8/2026).

Bola, kalau begitu, sepenuhnya ada di Washington.

Gharibabadi juga menepis anggapan bahwa kapal-kapal asing kini bisa melintas bebas. Angkatan bersenjata Iran, klaimnya, masih mempertahankan pengawasan penuh atas seluruh pergerakan kapal di sana. "Selat Hormuz tetap tertutup, dan jika ada kapal yang melewati jalur ini maka itu akan dilakukan dengan koordinasi dan otorisasi dari Iran," tandas Gharibabadi. Tidak ada celah untuk ditafsirkan lain.

Teheran juga tidak terkesan panik soal urgensi. Gharibabadi menyebut secara eksplisit bahwa Iran tidak terburu-buru membuka kembali jalur tersebut. Selama komitmen AS belum terpenuhi, langkah-langkah pertahanan dan upaya penangkalan ancaman dari Washington akan terus berjalan.

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan sempit antara Iran dan Oman ini setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik energi global. Ketegangan di sini langsung terasa di pasar komoditas, dan pelaku pasar di Jakarta pun tahu betul dampaknya terhadap harga minyak mentah maupun saham-saham sektor energi.

Konflik AS-Iran di sekitar Selat Hormuz ini bukan barang baru. Eskalasi terkini dimulai sekitar Februari lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda meredah. Kesepahaman dengan Oman agaknya jadi cara Teheran menunjukkan bahwa mereka masih mau duduk di meja negosiasi, tanpa benar-benar melepas kartu truf terbesarnya. Bisa jadi itu sinyal, bisa jadi sekadar manuver.

Pertanyaannya kini: seberapa cepat Washington siap bergerak? Jawaban itulah yang akan menentukan kapan tanker-tanker kembali bisa melintas tanpa was-was di jalur tersempit paling ramai di dunia.