Selat Hormuz belum selesai jadi panggung ketegangan, tapi Teheran agaknya sudah berpikir beberapa langkah ke depan.
Kantor berita Tasnim, yang kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bukan rahasia lagi, menerbitkan artikel berjudul "Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables". Isinya: Iran didorong memungut bayaran dari tujuh kabel fiber optik bawah laut internasional yang melintas di perairan tersebut. Media Fars, juga terafiliasi IRGC, menyebut selat itu sebagai "jalan tol digital tersembunyi" yang belum pernah benar-benar dimonetisasi Teheran.
Angkanya? Lebih dari 10 triliun dolar AS transaksi keuangan global diproses setiap hari lewat kabel-kabel yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa ini. Infrastruktur yang sama menjadi tulang punggung layanan cloud dari nama-nama seperti Meta, Amazon, dan Microsoft.
Tiga langkah yang diusulkan cukup konkret. Pertama, pengenaan biaya lisensi awal plus biaya pembaruan tahunan bagi operator asing. Kedua, raksasa teknologi global diwajibkan patuh pada koridor hukum Iran jika ingin terus menggunakan jalur tersebut. Ketiga, hak eksklusif pemeliharaan kabel diserahkan ke perusahaan domestik Iran. Bukan sekadar pajak. Ini kontrol penuh atas infrastruktur digital yang selama ini beroperasi tanpa banyak campur tangan Teheran.
Modelnya bukan tanpa preseden. Mesir sudah lama mempraktikkan hal serupa di versi digital Terusan Suez, memungut biaya transit untuk kabel yang menghubungkan Laut Merah dan Mediterania melalui daratannya, dengan Telecom Egypt sebagai pemain utamanya. Iran ingin mereplikasi skema itu, hanya saja di perairan internasional yang statusnya jauh lebih rumit secara hukum.
Secara geografis, titik tersempitnya hanya 33 kilometer. Hukum maritim internasional memberi setiap negara pantai kedaulatan 12 mil laut, yang artinya yurisdiksi Iran dan Oman saling bertumpang di sebagian besar jalur ini. Iran menguasai seluruh garis pantai utara plus sejumlah pulau strategis di dekat alur pelayaran, posisi yang memberi Teheran kemampuan pengawasan dan tekanan yang tidak dimiliki banyak negara. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, setara 20 juta barel per hari, melintas koridor ini. Belum termasuk seperempat perdagangan LNG global.
Kalau Iran sungguh-sungguh menerapkan pungutan baru, para analis memperingatkan dampaknya bisa menjalar ke sistem keuangan global, operasional cloud, hingga stabilitas koneksi internet lintas benua. Klaim yang masih perlu dibuktikan implementasinya, mengingat ketegangan geopolitik yang sedang memuncak.
Satu babak baru meletus di Washington.
Trump, yang mengklaim AS telah menyelesaikan 70 persen target serangan ke Iran, menyebut Teheran "telah dikalahkan secara militer." Ia bahkan sesumbar militer AS hanya butuh dua minggu lagi untuk menuntaskan sisa target. "Angkatan laut mereka hilang, angkatan udara mereka hilang, setiap elemen mesin perang mereka hilang," tegasnya kepada wartawan di Gedung Putih.
Laporan dari dalam AS sendiri bercerita lain. NBC News menyebut persediaan amunisi AS mulai menipis. CNN melaporkan kerusakan parah pangkalan militer AS di Timur Tengah akibat serangan balasan Iran. The Wall Street Journal menulis hanya sepertiga persediaan amunisi Iran yang berhasil dihancurkan, bukan angka yang bisa dibanggakan.
Trump, alih-alih membantah dengan data, memilih menyerang pembawa pesannya. Di Truth Social, ia menulis bahwa media-media AS yang melaporkan kegagalan serangan "membantu dan bersekongkol dengan musuh." CNN bahkan melaporkan Trump secara pribadi mendorong Departemen Kehakiman untuk mengeluarkan panggilan pengadilan kepada wartawan yang meliput perang, demi mengidentifikasi sumber-sumber anonim mereka.
NATO pun kena semprot. Aliansi transatlantik itu, kata Trump, "telah terbukti sebagai macan kertas" yang tidak hadir membantu ketika dibutuhkan.
Trump berjanji harga bahan bakar akan turun segera setelah konflik berakhir. Pekan ini ia berencana menemui Presiden China Xi Jinping di Beijing. Soal apakah Beijing bisa membantu soal Iran, Trump menjawab enteng: "Kita tidak memerlukan bantuan apa pun. Kita akan memenangkannya dengan cara apa pun."
Selat Hormuz tetap sempit. Makin ramai, makin panas.