SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Selat Hormuz Dibuka, Iran Terima US$6 Miliar dari...

Internasional

Selat Hormuz Dibuka, Iran Terima US$6 Miliar dari Kesepakatan Pascakonflik

Iran dan AS mencapai kesepakatan strategis: Selat Hormuz kembali dibuka, aset senilai US$6 miliar dicairkan bertahap, dan pelonggaran sanksi minyak selama 60 hari mulai berlaku.

Iran kantongi dana US$6 miliar, Selat Hormuz kembali dibuka

Selat Hormuz kembali terbuka untuk lalu lintas komersial setelah Iran dan Amerika Serikat merampungkan kerangka kesepakatan pascakonflik. Isinya tidak main-main: pencairan aset US$6 miliar, pelonggaran sanksi energi sementara selama 60 hari, dan pembersihan ranjau laut dalam waktu 30 hari.

Dana US$6 miliar itu bukan angka sembarangan. Ini bagian pertama dari paket pemulihan ekonomi US$12 miliar yang akan dikucurkan bertahap. Sumbernya adalah rekening yang dibekukan di Qatar, yakni dana yang sebelumnya dipindahkan dari bank-bank Korea Selatan lewat kesepakatan pertukaran tahanan pada 2023, lalu kembali dibekukan begitu konflik Hamas-Israel meletus.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pencairan tahap pertama akan dijalankan berdasarkan Pasal 11 Nota Kesepahaman AS-Iran, yang menjadi bagian dari implementasi gencatan senjata. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menambahkan mekanisme pencairan sudah disepakati melalui perundingan di Qatar dan Bürgenstock, Swiss.

Desain kesepakatannya terbilang tak lazim. Kelancaran pelayaran di Selat Hormuz dijadikan syarat berlanjutnya pelonggaran sanksi ekonomi. Bak pedang bermata dua: Teheran punya insentif untuk patuh, Washington tetap punya kartu tekanan. Iran wajib menuntaskan pembersihan ranjau dalam 30 hari, sementara AS mencabut blokade maritimnya.

Qatar dan Pakistan memainkan peran mediator kunci. Bukan sekadar seremonial, kedua negara kini memosisikan diri sebagai penghubung diplomatik yang akan tetap relevan sepanjang implementasi berjalan.

Bagi pasar energi global, ini kabar yang ditunggu. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melintas di Selat Hormuz, dan gangguan selama konflik memicu volatilitas harga yang terasa sampai Tokyo, Mumbai, dan Seoul. Pelonggaran sanksi sementara terhadap ekspor minyak dan petrokimia Iran diperkirakan menambah pasokan minyak mentah ke pasar dan meredam tekanan harga yang sempat mengencang.

Sebagian besar aset yang dibekukan berasal dari pendapatan ekspor minyak Iran yang tertahan sejak Washington keluar dari perjanjian nuklir pada 2018. Teheran menegaskan dana yang cair bisa dipakai bebas untuk memperkuat impor barang strategis dan mempercepat pemulihan ekonomi. Negara-negara Barat, entah kebetulan atau tidak, punya kamus yang berbeda: penggunaan dana harus dibatasi untuk pangan, obat-obatan, dan barang sipil. Soal itu belum selesai dijawab.

Pertanyaan lebih besar justru menggantung di lapisan lain: kesepakatan ini sama sekali tidak menyentuh program nuklir Iran, arsenal rudal balistik, maupun jaringan kelompok proksi di kawasan. Kalau data ini bisa dipercaya, stabilitas yang terbentuk sekarang masih sangat bersyarat, bergantung penuh pada kepatuhan kedua pihak. Sejumlah analis bahkan menyebut ini cermin retak dari deeskalasi yang sesungguhnya.

Perundingan teknis kini dipusatkan di Bürgenstock. Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance, Iran menurunkan Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Fokusnya: sinkronisasi mekanisme perbankan, jadwal pencairan, dan protokol pelayaran agar sengketa baru tidak muncul sebelum tinta kesepakatan benar-benar kering.

Bagi China, India, Jepang, dan Korea Selatan selaku importir minyak terbesar, normalnya Hormuz sudah cukup untuk membuat pasar bernapas. Setidaknya untuk sementara.