Lima tahun. Tidak ada trailer, tidak ada gameplay footage, tidak ada tanggal rilis. Hanya desas-desus dan janji-janji besar.
Sega mengakhiri itu semua dengan satu kalimat pendek di laporan triwulanan terbaru mereka: "Memutuskan untuk membatalkan Super Game. Tidak ada biaya tambahan yang terkait dengan pembatalan."
Selesai. Tanpa drama. Tanpa penjelasan.
Ketika pertama kali diperkenalkan pada 2021, Super Game bukan proyek sembarangan. Raksasa gaming asal Jepang itu memposisikannya sebagai inisiatif terbesar yang pernah mereka garap, proyek yang dirancang untuk memanfaatkan teknologi cloud, komunitas online, dan model bisnis live service modern. Microsoft pun disebut-sebut terlibat sampai batas tertentu. Sega bahkan mengaitkannya dengan ambisi untuk menghidupkan kembali franchise-franchise klasik mereka lewat inisiatif yang belakangan dikenal sebagai Sega Universe.
Ambisius, memang. Tapi keheningan selama lima tahun itu agaknya sudah jadi tanda peringatan yang cukup jelas.
Di industri game, ketiadaan kabar dari proyek besar hampir selalu berarti sesuatu tidak beres di balik layar. Kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, kali ini dugaan itu terbukti benar.
Faktor yang paling kentara? Performa Sonic Rumble. Game free-to-play berbasis franchise ikonik mereka itu dianggap gagal memenuhi ekspektasi pada tahun fiskal 2026, dan kolaborasi dengan Rovio Entertainment, perusahaan di balik Angry Birds, pun tidak menghasilkan nilai ekonomi yang diharapkan. Beberapa proyek internal juga ikut tertunda. Manajemen Sega, agaknya, memilih memotong kerugian ketimbang terus membakar sumber daya.
Bukan main. Lima tahun investasi, dan laporan keuangan cuma mencatat nol biaya tambahan untuk pembatalan. Entah itu kabar baik soal efisiensi, atau tanda bahwa proyek ini memang tidak pernah benar-benar jalan dari awal.
Satu hal yang menarik dari cara Sega mengumumkan pembatalan ini adalah betapa sedikitnya informasi yang mereka berikan. Tidak ada detail soal genre, tidak ada bocoran merek yang jadi basisnya, tidak ada aset yang beredar di internet. Untuk standar industri, di mana pembatalan game besar biasanya disusul gelombang bocoran, pendekatan ini terbilang tidak biasa, khususnya untuk pengembang Jepang yang memang lebih tertutup. Ada risiko nyata kita tidak akan pernah tahu game seperti apa yang sebenarnya sedang dibangun.
Pertanyaannya, apakah ketertutupan itu disengaja atau justru cermin dari proyek yang memang tidak pernah mencapai tahap yang layak dibocorkan?
Pipeline Sega sendiri tidak ikut terkubur. Stranger Than Heaven dijadwalkan rilis musim dingin mendatang sebagai proyek terdekat. Virtua Fighter 6, Crazy Taxi, reboot Jet Set Radio, Streets of Rage terbaru, sekuel Alien: Isolation, Persona 4 Revival, hingga Total War: Warhammer 40,000 semuanya masih dalam pengembangan aktif.
Bisa jadi, Sega sedang memilih kembali ke akar mereka setelah bertahun-tahun mengejar tren live service yang terbukti tidak ramah bagi semua orang. Tinggal satu pertanyaan: apakah franchise-franchise klasik itu cukup untuk membayar ekspektasi yang terlanjur dibangun?