Sambil melukis di Magelang, SBY rupanya tetap memantau detak pasar.
"Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan," tulis mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui cuitannya di platform X pada Selasa, 12 Mei 2026.
Bukan pernyataan kecil. Apalagi datang dari mantan kepala negara yang pernah menavigasi krisis keuangan 2008.
Rupiah yang sudah menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS bukan angka yang asing bagi generasi yang ingat 1998. Tapi bagi pasar hari ini, level itu cukup untuk bikin investor ritel dua kali pikir sebelum averaging down. Indeks pun tidak dalam kondisi prima, dan tekanan eksternal belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
SBY tidak berhenti di diagnosis. Tekanan yang lebih dalam, katanya, masih bisa dicegah asalkan langkah tepat segera diambil. "Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki 'political & economic resources'. Opsi & solusi masih tersedia," tulisnya.
Menarik, karena penekanannya bukan pada kritik. SBY secara eksplisit menyerukan kolaborasi: pemerintah, dunia usaha, ekonom, dan seluruh pemangku kepentingan harus "on board" bersama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. "In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama," tegasnya.
Bagi investor, agaknya pesan itu lebih relevan dari yang terlihat di permukaan. Ketika tokoh yang secara historis berada di luar lingkaran kekuasaan justru memilih nada konstruktif, entah kebetulan atau tidak, itu sendiri bisa dibaca sebagai sinyal bahwa volatilitas saat ini belum masuk kategori krisis sistemik. Meski, tentu saja, tetap perlu diwaspadai.
Pertanyaannya: berapa lama pasar butuh untuk memutuskan sendiri apakah sinyal ini cukup.
"Insya Allah Indonesia Bisa," pungkas SBY.