MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  SBY dari Magelang: Pasar Lesu, tapi Krisis Lebih D...

Ekonomi

SBY dari Magelang: Pasar Lesu, tapi Krisis Lebih Dalam Masih Bisa Dicegah

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menilai kondisi pasar modal dan pasar uang Indonesia sedang tidak baik-baik saja, namun tekanan yang lebih berat masih bisa dihindari asalkan semua pihak bergerak bersama.

Sambil Melukis, SBY Amati Dinamika Pasar Modal

Dari Magelang, sambil memegang kuas, Susilo Bambang Yudhoyono memantau sesuatu yang jauh lebih rumit dari kanvas: kondisi pasar modal dan pasar uang Indonesia.

Lewat akun X pribadinya, @SBYudhoyono, Presiden ke-6 RI itu menulis pernyataan yang cukup blak-blakan. Ia mengakui kondisi pasar saat ini "kurang menggembirakan", sebuah framing yang halus tapi cukup untuk membuat pelaku pasar menaikkan alis.

Bukan main. Ini bukan komentator pasar biasa. SBY punya rekam jejak memimpin ekonomi Indonesia selama dua periode, termasuk saat badai finansial global 2008 menghantam. Kalau mantan presiden angkat suara soal tekanan ekonomi, pasar mendengarkan.

Namun pernyataannya bukan sekadar alarm. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menegaskan bahwa tekanan yang lebih berat masih bisa dicegah, dengan syarat. "Tentu something must be done. Kita masih memiliki political & economic resources. Opsi & solusi masih tersedia," tulisnya.

Kalimat itu, bagi sebagian analis, agaknya bisa dibaca dua arah: optimisme terukur, atau peringatan bahwa tanpa langkah konkret, kondisi bisa memburuk lebih cepat dari yang diantisipasi.

SBY secara eksplisit menyebut pentingnya soliditas di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah, dunia usaha, para ekonom, seluruh pemangku kepentingan, semuanya harus "on board". "In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama," tegasnya.

Ini bukan sekadar seruan moral. Volatilitas yang melingkupi bursa saham belakangan ini membuat sinyal soliditas dari semua aktor ekonomi bisa jadi variabel yang menentukan seberapa dalam koreksi akan berlanjut. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan ini muncul persis saat kepercayaan investor sedang diuji.

SBY menutup pernyataannya dengan ajakan kepada masyarakat untuk memberi kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. "Insya Allah Indonesia bisa," tulisnya.

Pertanyaannya kini: seberapa cepat "something" itu benar-benar dilakukan?