Rupiah dibuka di Rp17.479 per dolar AS pagi tadi. Cukup untuk bikin pelaku pasar menahan napas.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono rupanya tidak melewatkan momen itu. Meski sedang melukis di Magelang, Jawa Tengah, SBY mengaku terus mengikuti dinamika pasar modal maupun pasar uang. Lewat akun X pribadinya, Selasa (12/5/2026), ia mengakui kondisi memang kurang menggembirakan, tapi langsung memberi catatan penting: tekanan yang lebih berat, menurutnya, masih bisa dicegah.
"Kita masih memiliki political & economic resources. Opsi & solusi masih tersedia," tulis SBY.
Pernyataan itu bukan sekadar penenang. Ada nada peringatan di baliknya, sekaligus seruan untuk tidak pecah kongsi ketika situasi menekan. SBY menekankan bahwa pemerintah, dunia usaha, para ekonom, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. "In crucial things, unity. Mutual trust mesti dibangun bersama," ujarnya.
Di pasar, data Bloomberg mencatat rupiah melemah 0,37 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS. Tekanan serupa melanda mayoritas mata uang Asia, seiring dolar yang masih perkasa di pasar global.
IHSG tak lebih baik nasibnya. Indeks ditutup amblas 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,90, setelah sempat menyentuh intraday high 6.977,29 di awal sesi. Volume transaksi tercatat 31,08 miliar lembar dengan frekuensi 2,514 juta kali. Ramai, tapi tekanan jual agaknya lebih dominan.
Sinyal dari mantan presiden yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di studio lukis ini patut dicermati. SBY dikenal sebagai figur yang jarang bereaksi impulsif terhadap sentimen jangka pendek. Pilihan ia berbicara justru di momen seperti ini, entah kebetulan atau tidak, bisa dibaca sebagai sinyal bahwa situasinya memang perlu perhatian serius. Bukan kepanikan. Tapi juga bukan didiamkan.
"Insya Allah Indonesia bisa," tutupnya.
Bola ada di tangan Prabowo. Pasar tidak menunggu lama.