Sepanjang pekan ini, tekanan Washington terhadap Teheran tak berhenti di udara saja. Departemen Keuangan AS resmi menjatuhkan sanksi baru pada Jumat (10/7/2026), kali ini menyasar jaringan keuangan yang selama ini agaknya beroperasi di bawah radar, eh, maksudnya bergerak senyap, memindahkan miliaran dolar atas nama lembaga keuangan Iran yang sudah lebih dulu masuk daftar hitam.
Sasaran utama: Ali Ansari. Pengusaha yang disebut OFAC memiliki kedekatan langsung dengan Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran yang namanya makin sering disebut sebagai penerus kekuasaan. Ansari, bermukim di Dubai, dituduh Washington membangun jaringan korupsi sistematis di dalam tubuh pemerintahan Iran, termasuk mengalihkan dana sektor kesehatan untuk memperkaya pejabat tinggi dan mendanai operasi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Berapa yang berhasil dialirkan keluar? Miliaran dolar per tahun, kata Washington. Tersebar ke aset-aset di Uni Emirat Arab, Eropa, dan sejumlah negara lain yang tidak masuk rezim sanksi internasional. Perusahaan cangkang jadi instrumen utamanya. Dua di antaranya berbasis di Hong Kong dan UEA, kini ikut kena pembekuan aset.
Dalam paket sanksi terbaru, OFAC turut menargetkan tiga shadow exchange houses yang beroperasi di Teheran dan Shiraz, ditambah tujuh individu yang diduga jadi penghubung jaringan tersebut. Seluruh aset di bawah yurisdiksi AS langsung dibekukan. Setiap pihak Amerika yang masih punya hubungan bisnis dengan entitas-entitas ini wajib melapor ke OFAC.
Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan Washington tidak akan berhenti menggunakan instrumen ekonomi untuk mengisolasi elite Iran dari sistem keuangan global. Klaim yang terdengar familiar, kalau data sejarah sanksi bisa dipercaya, tapi kali ini datang di tengah konteks geopolitik yang jauh lebih ruwet dari biasanya.
Sebab di luar urusan sanksi, kedua negara sedang tarik-ulur soal meja perundingan. Trump menyatakan Washington setuju melanjutkan pembicaraan dengan Teheran atas permintaan Iran sendiri, meski ia juga menegaskan gencatan senjata antara kedua pihak "telah berakhir." Teheran langsung membantah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan negaranya "tidak pernah menawarkan untuk bernegosiasi" dan menuding AS berulang kali melanggar memorandum yang dicapai bulan lalu, mulai dari melanjutkan serangan udara, memperketat pembatasan ekspor minyak, hingga memberlakukan sanksi baru.
Ketegangan makin pelik setelah serangkaian insiden di Selat Hormuz. Kedua pihak saling melancarkan serangan udara balasan, sementara Iran dilaporkan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania. Bukan skenario yang ringan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan mengunjungi Oman pada 11 Juli untuk membahas keselamatan maritim di jalur pelayaran tersebut, sekaligus melanjutkan konsultasi dengan mediator regional.
Kebijakan Teheran, menurut Baghaei, tetap berpijak pada prinsip "komitmen untuk komitmen": setiap pelanggaran Washington dibalas setimpal. Washington, di sisinya, terus menumpuk lapisan sanksi baru. Dua kubu yang sama-sama mengaku tak mau perang, tapi sama-sama tak kunjung mundur.