Tiga lini Galaxy A dari Samsung kini berdiri berdampingan di pasar, masing-masing menyasar kantong dan kebutuhan yang berbeda. Galaxy A26 5G bermain di kisaran Rp4 jutaan, Galaxy A37 5G di bawah Rp8 juta, dan Galaxy A57 5G yang baru resmi hadir sebagai penerus A55 5G dengan desain lebih tipis dan bekal AI yang lebih serius.
Galaxy A57 5G jadi yang paling banyak diperbincangkan. Bukan tanpa alasan. Perangkat ini hadir dengan ketebalan hanya 6,9 mm dan bobot 179 gram, jauh lebih ramping dibanding Galaxy A55 5G yang tebalnya 8,2 mm dengan bobot 213 gram. Selisih 34 gram mungkin terdengar kecil di atas kertas, tapi bagi pengguna yang banyak bergerak, perbedaan itu terasa di genggaman.
Layarnya Super AMOLED+ 6,7 inci dengan refresh rate 120 Hz dan kecerahan puncak 1.900 nits, naik dari 1.200 nits pada generasi sebelumnya. Samsung juga memperkecil bezel, membuat rasio layar ke bodi terasa lebih modern. Dapur pacunya Exynos 1680, satu generasi di atas Exynos 1480 yang ada di A55 5G, dengan peningkatan pada CPU, GPU, dan NPU. Vapor chamber yang 13 persen lebih besar diklaim menjaga suhu tetap stabil saat gaming hingga tiga jam. Cukup untuk bikin para penggiat mobile gaming sedikit lega.
Di sisi AI, Samsung menyematkan Circle to Search, Gemini, dan Voice Transcription berbasis pemrosesan on-device. Annisa Maulina, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, menyebut perangkat ini dirancang untuk mendukung gaya hidup modern yang semakin dinamis. "Galaxy A57 5G dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih modern dan premium bagi pengguna, mulai dari desain yang diperbarui, lebih tipis hanya 6,9 mm dan hanya 179 gram sehingga nyaman digenggam untuk waktu yang lama," ujarnya. Baterai 5.000 mAh dengan Super Fast Charging tetap dipertahankan. Tersedia dalam empat varian warna: Awesome Navy, Awesome Gray, Awesome Icy Blue, dan Awesome Lilac. Harga mulai Rp7.599.000 untuk varian 8/128 GB.
Nah, soal harga, di sinilah diskusinya jadi menarik. Disandingkan dengan Xiaomi 15T di segmen berdekatan, selisih Rp1,5 juta untuk varian RAM 12 GB dan storage 256 GB terasa cukup berarti. Xiaomi 15T membawa layar AMOLED 6,83 inci resolusi 1,5K dengan kecerahan puncak 3.200 nits, dilindungi Corning Gorilla Glass 7i. Chipsetnya Dimensity 8400 Ultra, yang secara benchmark duduk di kelas lebih tinggi dari Exynos 1680. Baterai 5.500 mAh dengan pengisian 67W HyperCharge juga unggul dari sisi kapasitas dan kecepatan isi. Kamera utama 50 MP Leica Summilux pada Xiaomi 15T, agaknya, sulit diabaikan bagi pengguna yang serius soal fotografi.
Pertanyaannya memang bukan mana yang lebih canggih. Ekosistem mana yang lebih cocok, itu yang sebenarnya jadi penentu. Samsung One UI, update OS jangka panjang, dan integrasi Galaxy AI punya daya tarik tersendiri bagi sebagian pengguna yang sudah lama berkutat di orbit Samsung.
Satu tingkat di bawah A57, Galaxy A26 5G justru menarik perhatian karena alasan berbeda: harganya turun. Ponsel yang meluncur April 2025 ini kini dijual Rp4.199.000 untuk varian 128 GB dan Rp4.289.000 untuk 256 GB, sekitar Rp400.000 lebih murah dari harga peluncuran. Bukan angka kecil. Layarnya Super AMOLED 6,7 inci, refresh rate 120 Hz, kecerahan 1.000 nits. Chipset Exynos 1380 proses 5nm dengan RAM 8 GB. Yang bikin A26 5G berbeda dari kompetitor di kelas Rp4 jutaan: sertifikasi IP67, tahan air dan debu, sesuatu yang langka di harga segitu. Fitur Circle to Search dan Object Eraser turut hadir, membawa sebagian DNA Galaxy AI ke segmen entry-menengah.
Galaxy A37 5G melengkapi deretan ini sebagai opsi tengah antara A26 dan A57, meski detail spesifikasinya belum selengkap dua saudaranya.
Bagi calon pembeli, pilihannya relatif jelas: A26 5G untuk yang mengedepankan nilai uang, A57 5G untuk yang ingin naik kelas di ekosistem Samsung dengan desain premium, dan A37 5G sebagai jalan tengah. Yang menarik dicermati, apakah penurunan harga A26 akan berlanjut seiring masuknya A57 ke pasar. Kalau iya, segmen Rp4 jutaan Samsung bisa makin menggiurkan.