Sepanjang beberapa tahun terakhir, pertarungan di segmen TV premium Indonesia nyaris selalu soal ukuran layar dan fitur pintar. Samsung rupanya ingin menggeser debat itu ke level yang berbeda.
Samsung Electronics Indonesia resmi membawa lini televisi Micro RGB ke pasar lokal, dengan seri R95H dan R85H sebagai jagoan utamanya. Teknologi ini diklaim sebagai yang pertama di dunia, sebuah klaim yang cukup berani, tapi didukung pendekatan teknis yang tidak biasa. Panel Micro RGB menggunakan lampu latar merah, hijau, dan biru berukuran di bawah 100 mikrometer. Masing-masing lampu memancar secara independen, sehingga kontrol luminansi di level piksel menjadi jauh lebih granular dibanding panel LED konvensional. Hasilnya: warna terlihat lebih natural, hitam lebih pekat, dan detail gambar tetap tajam di berbagai kondisi cahaya ruangan.
"Samsung Micro RGB R95H dan R85H adalah TV pertama di dunia dengan teknologi Micro RGB yang mampu menghadirkan warna lebih presisi, kontras lebih dalam, serta kontrol luminansi lebih akurat di setiap piksel," kata Ubay Bayanudin, Head of Product AV Business Samsung Electronics Indonesia. Bagi Ubay, ini bukan sekadar pembaruan spesifikasi. Ini evolusi nyata dalam pengembangan TV premium Samsung.
Di atas fondasi panel itu, Samsung menumpuk lapisan kecerdasan buatan yang cukup tebal. Ada Micro RGB AI Engine Pro, AI Upscaling, hingga AI Motion Enhancer Pro yang bekerja secara real-time untuk mengoptimalkan kualitas gambar sesuai jenis konten. Tayangan beresolusi rendah bisa terlihat lebih tajam, pergerakan cepat saat siaran olahraga atau sesi gaming terasa lebih mulus. Bukan fitur baru di industri ini, tapi integrasinya dengan panel Micro RGB agaknya membuat perbedaan lebih terasa.
Yang paling mengundang rasa ingin tahu dari ekosistem ini: Samsung Vision AI. Sistem ini bukan cuma mengatur gambar dan suara secara otomatis, tapi juga mempelajari kebiasaan menonton pengguna seiring waktu, lalu menyesuaikan pengaturan secara personal. Ada juga Vision AI Companion, yang memposisikan TV bukan sekadar layar hiburan, melainkan asisten pintar di ruang keluarga. Ubay menyebutnya sebagai "teman pintar" yang menemani aktivitas sehari-hari, setidaknya itu klaim manajemen. Perlu dibuktikan dalam penggunaan jangka panjang.
Infinity Air Design dengan bezel ultra-tipis secara visual memperluas kesan layar. Fitur Glare Free turut disematkan untuk meredam pantulan cahaya, sehingga gambar tetap nyaman dilihat di ruangan terang. Dua hal yang biasanya jadi keluhan pengguna TV premium di ruang tamu dengan banyak jendela.
Untuk audio, lineup ini dilengkapi AI Sound Controller Pro, Dolby Atmos, OTS Lite, dan Active Voice Amplifier Pro. Dialog terdengar lebih jernih, efek surround lebih sinematik. Samsung juga membekali TV ini dengan AI Generative Wallpaper, Vision of Art untuk menampilkan karya seni digital saat layar tidak dipakai, hingga fitur Karaoke Mic yang mengubah smartphone menjadi mikrofon tanpa aksesori tambahan. Fitur terakhir ini, entah kebetulan atau tidak, relevan sekali dengan kebiasaan hiburan keluarga Indonesia. Seluruh fitur AI tersebut dilindungi Samsung Knox Security, sistem keamanan berlapis yang selama ini juga digunakan di lini Galaxy.
Soal harga, Samsung membanderol lini Micro RGB mulai Rp23.999.999. Tidak murah. Samsung juga menghadirkan seri Mini LED M70H, M80H, dan M90H sebagai opsi yang lebih terjangkau, mulai Rp4.699.000. Selama masa peluncuran, pembelian model tertentu mendapat bonus smartphone dan soundbar.
Dengan harga entry point hampir Rp24 juta, Samsung tidak sedang bicara ke semua orang. Ini taruhan di segmen premium, melawan OLED dan QD-OLED yang sudah lebih dulu punya basis penggemar setia. Pertanyaannya sederhana: apakah Micro RGB cukup untuk menggeser preferensi mereka?