Kamera Samsung Galaxy S26 Ultra punya dua cerita yang sama-sama layak dibaca.
Cerita pertama datang dari dalam kerumunan konser K-pop grup Cortis di Indonesia Arena. Merekam video di sana bukan perkara gampang, apalagi kalau kaki sudah jinjit dan kepala ikut manggut-manggut. Tanpa stabilisasi mumpuni, fancam bisa berubah jadi tontonan yang menyiksa mata. Samsung menjawab masalah klasik ini lewat Horizontal Lock, fitur yang mengombinasikan Optical Image Stabilization (OIS) pada kamera utama dan telefoto, digabung dengan sistem penstabil berbasis giroskop (Gyro-EIS), serta sensor akselerometer yang bekerja secara real-time.
Stabil, meski pemegangnya berjoget.
Horizontal Lock tidak eksklusif untuk S26 Ultra. Samsung Galaxy S26 dan S26 Plus juga kebagian fitur ini, dan bisa diaktifkan di tiga lensa sekaligus: ultrawide (0,6x), kamera utama (1x), dan telefoto (2x). Cara mengaktifkannya cukup mudah, eh, maksudnya: buka aplikasi kamera, masuk ke mode video, pilih ikon "orang berlari" di pojok kanan atas, lalu pilih ikon Horizontal Lock urutan ketiga. Tidak perlu gimbal, tidak perlu tangan se-stabil robot.
Cerita kedua lebih teknis, dan agaknya lebih penting buat yang serius soal kualitas kamera.
S26 Ultra hadir dengan kamera utama 200MP berlensa f/1.4, naik dari f/1.7 di S25 Ultra. Perubahan ini bukan kosmetik. Bukaan lensa yang lebih lebar berarti lebih banyak cahaya masuk ke sensor, dan dampaknya langsung terasa: kecepatan rana bisa lebih cepat, hasil foto lebih tajam, bokeh portrait lebih halus, video malam lebih bersih dari noise. Menurut data resmi Samsung, lensa utama f/1.4 menangkap cahaya sekitar 30-50 persen lebih banyak dibanding generasi sebelumnya.
Kamera telefoto periskop 5x juga ikut naik kelas, dari f/3.4 ke f/2.9, dengan peningkatan tangkapan cahaya sekitar 37-38 persen. Dan dari semua lensa yang diuji, telefoto 5x inilah yang paling terasa lonjakannya. Sensor 50MP di lensa 115mm mampu mempertahankan detail rambut, aksesori, bahkan tekstur wajah di kondisi cahaya kontras. Untuk portrait, telefoto 3x atau 5x justru lebih dianjurkan ketimbang kamera utama dari jarak dekat karena distorsi wajah jauh lebih minim.
Reproduksi warna S26 Ultra terbilang matang. Tidak oversaturated, cukup vivid, dengan metering yang memprioritaskan highlight agar area terang tidak terbakar. Di kondisi remang biasa, selisihnya dengan S25 Ultra tidak dramatis. Tapi di kondisi yang benar-benar gelap, barulah lensa f/1.4 menunjukkan taji. Pertanyaannya, seberapa sering kita motret di kegelapan total? Cukup sering, ternyata, kalau kita bicara soal video.
Satu catatan: peningkatan ini lebih kentara di video dibanding foto diam. Night Mode di generasi sebelumnya sudah cukup mumpuni untuk kompensasi cahaya, tapi untuk perekaman video malam hari, lensa yang lebih lebar membuat perbedaan yang lebih nyata. Bukan sekadar klaim marketing, kalau data ini bisa dipercaya.
Bagi kreator konten, Samsung juga menyertakan dukungan perekaman LOG dengan opsi LUT langsung dari kamera, slow motion hingga 4K, plus fitur seperti ND Filter dan AstroPhoto. Workflow video dari merekam sampai color grading bisa dilakukan tanpa perangkat tambahan. Angka fitur yang tidak main-main untuk sebuah ponsel.
Persaingan flagship 2026 memang sengit, dan sejumlah kompetitor mulai unggul di area zoom jauh atau transisi zoom video yang lebih halus. Tapi untuk kombinasi stabilisasi harian plus kemampuan kamera malam yang serius, S26 Ultra susah diabaikan begitu saja.