Konser adalah ujian paling jujur buat kamera smartphone. Cahaya dramatis yang berubah-ubah, jarak jauh ke panggung, penonton yang bergerak, tangan yang tiba-tiba masuk frame. Tidak ada setup, tidak ada retry, tidak ada ampun.
Dua pengujian dari dua konteks yang sama sekali berbeda menghasilkan kesimpulan yang kurang lebih serupa soal Samsung Galaxy S26 Ultra: perangkat ini memang dirancang untuk kondisi semacam itu.
Yang pertama datang dari musisi Bernadya, yang sudah menjadikan S26 Ultra sebagai kamera hariannya, termasuk saat nonton konser dan mengabadikan momen backstage. Yang kedua adalah photodump KompasTekno dari festival Allo Bank 2026, tempat boy group Cortis tampil sebagai headliner di Indonesia Arena di hadapan ribuan Coer, pertengahan Juni lalu. Keduanya menguji perangkat yang sama, dari angle yang jauh berbeda.
Di panggung festival skala besar, jarak jadi masalah utama. KompasTekno memotret dari posisi paling belakang Indonesia Arena, mengandalkan kamera 200 MP dan kamera telefoto 50 MP dengan zoom 5x hingga 10x. Hasilnya cukup untuk menangkap ekspresi wajah performer dan detail visual panggung dari posisi yang, di atas kertas, termasuk tidak ideal. Fitur ini juga dimanfaatkan untuk apa yang disebut "Gen Z Selfie": selfie menggunakan kamera belakang ultrawide supaya bidang pandang lebih lebar dan detail dibanding kamera depan biasa.
Bernadya datang dengan tantangan yang berbeda. Bukan soal jarak, tapi soal cahaya. Nightography di S26 Ultra kini ditopang lensa f/1.4 pada kamera utama, naik dari f/1.7 di S25 Ultra, sehingga tangkapan cahaya meningkat sekitar 30-50%. Gabungan sensor, lensa, stabilisasi, dan pemrosesan AI bekerja bersamaan ketika kondisi redup terdeteksi, dengan hasil yang diklaim tetap tajam tanpa sekadar mencerahkan gambar secara artifisial. Untuk situasi bergerak cepat seperti rehearsal dan soundcheck, ada Horizontal Lock yang menggabungkan accelerometer, gyroscope, dan OIS. Footage langsung bisa dibagikan, tanpa harus distabilisasi ulang di tahap editing.
Bagian yang agaknya paling relevan untuk pengguna awam justru ada di fitur AI-nya. Di konser, selalu ada yang masuk frame tanpa diundang: tangan penonton, orang yang photobomb, sampah di lantai. AI Eraser menangani ini dengan alur yang cukup mudah, pilih objek, tekan Generate, selesai dalam beberapa detik. KompasTekno mencoba fitur ini dan hasilnya disebut rapi, bekas editan nyaris tidak kelihatan.
Lebih eksperimental lagi: fitur Create. Pengguna bisa mengubah elemen foto lewat perintah teks. KompasTekno mencoba mengubah warna outfit di foto konser Cortis menjadi merah dan hijau sesuai tema lagu "REDRED" milik grup tersebut, dan hasilnya diklaim cukup natural untuk sekilas sulit dibedakan dari foto tanpa editan. Entah kebetulan atau tidak, ini persis jenis trik yang bikin photodump terlihat lebih "disiapkan" tanpa terasa dibuat-buat.
Bernadya juga menyebut Photo Assist, fitur edit berbasis Galaxy AI yang terintegrasi langsung di aplikasi galeri. Pengaturan mood, warna, hingga rekomposisi gambar bisa dilakukan dari HP, kapan pun. Untuk seseorang yang identitas visualnya sudah jadi bagian dari brand, ini bukan fitur kecil.
Satu tambahan yang tidak banyak disorot tapi cukup menarik: Privacy Display. Ini fitur layar privasi terintegrasi pertama di dunia untuk smartphone, hadir di S26 Ultra. Tampilan hanya terlihat jelas dari depan; dari sudut samping, layar tampak gelap. Ada dua mode, Partial untuk menyembunyikan notifikasi saja, dan Maximum untuk seluruh layar. Di backstage penuh orang atau saat menunggu di tempat ramai, bisa jadi lebih berguna dari yang dibayangkan.
Samsung Galaxy S26 Ultra tersedia di samsung.com/id dan seluruh Samsung Store. Sepanjang Juni 2026, ada promo cicilan mulai Rp1,3 jutaan per bulan, cashback hingga Rp3,5 juta untuk pembelian Galaxy Wearables atau aksesori, plus cicilan 0% bunga dan 0% DP. Dua pengujian live dari dua konteks berbeda ini setidaknya memberi gambaran yang cukup nyata tentang apa yang bisa dilakukan perangkat ini, dan di mana batas-batasnya.