RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Samsung Galaxy Glasses: Gestur Jari, Ekosistem Gal...

Tekno

Samsung Galaxy Glasses: Gestur Jari, Ekosistem Galaxy, dan Ambisi Rebut Pasar AI Glasses

Bocoran aplikasi pendamping Galaxy Glasses mengungkap fitur kontrol via Galaxy Ring, integrasi Galaxy Watch, dan sistem One UI XR berbasis Android. Samsung bersiap menantang Meta di segmen AI glasses yang tumbuh 611% dalam setahun.

Ilustrasi serangan prompt injection pada AI chatbot

Pasar AI glasses sedang bergolak, dan Samsung rupanya tidak mau sekadar jadi penonton.

Bocoran ekstensif aplikasi pendamping Galaxy Glasses yang beredar akhir Juni 2026 memberikan gambaran paling lengkap sejauh ini tentang bagaimana Samsung membangun ekosistem wearable terbarunya. Data yang pertama kali diungkap SammyGuru ini bukan sekadar bocoran desain, eh, bukan, tanpa em dash: bukan sekadar bocoran desain, melainkan menyentuh mekanisme kontrol, integrasi antar perangkat, hingga sistem operasinya.

Intinya: ini bukan kacamata pintar biasa. Samsung membangunnya sebagai simpul ekosistem.

Galaxy Glasses akan berjalan di atas Android XR dengan antarmuka One UI XR kustom, hasil kolaborasi Samsung bersama Google dan Qualcomm. Pengguna mengelola perangkat lewat aplikasi khusus di ponsel Galaxy, mencakup pengaturan kamera, aksesibilitas, tab AI Assistants, hingga fitur Find My untuk melacak kacamata yang terselip di balik bantal sofa.

Yang paling menarik perhatian adalah skema kontrolnya. Tiga lapis. Samsung menyiapkan tombol fisik di bingkai kacamata, Galaxy Watch sebagai controller alternatif, dan Galaxy Ring untuk kontrol gestur jari. Lewat Ring, pengguna bisa memberikan perintah tanpa menyentuh kacamata sama sekali, cukup gerakan jari yang dideteksi sensor. Tombol di bingkai sendiri cukup fungsional: ganti lagu, atur volume, angkat telepon, potret, rekam video. Samsung bahkan menyematkan lampu LED sebagai indikator ketika kamera aktif, sinyal visual kecil yang agaknya menjawab sebagian kekhawatiran soal privasi.

Soal privasi ini, perdebatannya belum selesai. Di forum-forum, banyak calon pengguna mempertanyakan cara cepat mematikan mikrofon dan kamera saat tidak diperlukan. Klaim yang masih perlu dibuktikan Samsung dalam implementasi nyata.

Konteksnya penting: pasar waveguide AR dan AI glasses tumbuh 611% year-over-year pada paruh kedua 2025, menurut Counterpoint Research. Masif. Pesaing utama di segmen ini Meta dengan lini AI Glasses yang sudah punya basis pengguna loyal. Tapi Samsung datang dengan kartu truf yang Meta tidak punya: ekosistem Galaxy yang sudah terinstal di ratusan juta perangkat. Integrasi dengan Galaxy Ring, Watch, dan ponsel Galaxy bisa menjadi daya tarik yang sulit ditiru Meta dalam waktu dekat, kalau data ini bisa dipercaya.

Dibandingkan Galaxy XR headset yang dibanderol sekitar $1.799,99 (Rp29 juta-an), Galaxy Glasses bermain di ceruk yang jauh lebih terjangkau dan sehari-hari. Bisa jadi ini justru produk Samsung yang paling berpeluang meledak di pasaran, bukan headset XR-nya.

Jika jadwal tidak berubah, perangkat ini debut di Galaxy Unpacked berikutnya. Samsung juga menggandeng Warby Parker dan Gentle Monster untuk aspek desain, dua nama yang paham betul cara membuat kacamata yang orang mau pakai keluar rumah. Entah kebetulan atau tidak, kolaborasi itu menyiratkan Samsung sadar bahwa pertarungan AI glasses bukan cuma soal fitur. Pertanyaannya: apakah orang mau memakainya tanpa merasa canggung? Itu yang belum terjawab.