Harga nominal tinggi bukan jaminan apa-apa.
Itu yang terbaca dari kinerja sepuluh saham termahal di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun berjalan, dihitung sejak penutupan 2 Januari 2026 hingga pertengahan Mei. Jurangnya cukup dalam untuk bikin investor ritel berpikir dua kali soal asumsi lama: mahal berarti aman.
Yang paling mencolok di zona hijau adalah PT Akasha Wira International Tbk (ADES). Saham produsen air minum dalam kemasan dan kosmetik ini melesat 52,54%, dari Rp15.275 ke Rp23.300. Bukan angka kecil. Penguatan ini agaknya mencerminkan kombinasi kepercayaan investor pada efisiensi operasional perusahaan plus akumulasi yang cukup konsisten sejak kuartal pertama.
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) ikut menghijau 22,53%. Konteksnya menarik: industri rokok biasanya kena sengat kenaikan cukai tiap tahun, tapi 2026 jadi pengecualian karena pemerintah memilih tidak menaikkan tarif cukai hasil tembakau. Pasar membaca sinyal itu dan masuk. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dari sektor batu bara menambah 10,33%, ditopang harga komoditas global yang masih cukup kuat dan kebijakan dividen yang selalu jadi daya tarik tersendiri bagi pemegang saham ITMG.
Dua nama lain yang cukup solid: PT Roda Vivatex Tbk (RDTX) naik 28,15% dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menguat 17,97%. Keduanya dari sektor properti dan investasi, sektor yang belakangan mulai dilirik sebagai alternatif diversifikasi ketika pasar global masih penuh ketidakpastian.
Lalu sisi satunya.
PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) jadi yang paling parah dihajar. Sahamnya amblas 66,06%, dari Rp62.250 di awal Januari kini tersisa Rp21.125. Bukan koreksi biasa. Entah dipicu aksi ambil untung masif setelah reli panjang tahun lalu, atau ada pergeseran fundamental dalam cara pasar menilai emiten teknologi domestik, yang jelas siapapun yang masuk di level puncak dan masih pegang saham ini kondisinya nyangkut cukup dalam sekarang.
PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang masih menyandang status saham dengan harga nominal tertinggi di bursa, terkoreksi 5% YTD. Relatif moderat dibanding MLPT, tapi tetap merah. PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 8,97%, dipengaruhi dinamika harga emas yang melemah plus isu pencabutan izin di beberapa lini operasional yang sempat memangkas volume pekerjaan kontraktor dan menekan proyeksi laba.
PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) masing-masing tergerus 7,12% dan 13,33%. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai cerminan tren, sektor properti-kesehatan belum sepenuhnya keluar dari tekanan.
Ada satu karakteristik yang perlu diingat soal saham berharga nominal tinggi: jumlah saham beredar biasanya lebih terbatas. Ibarat pedang bermata dua, ketika naik bisa kencang, ketika turun juga bisa brutal, bahkan dari volume transaksi yang tidak terlalu besar sekalipun.
Kesenjangan antara ADES yang tumbuh lebih dari 50% dan MLPT yang rontok lebih dari 60% dalam periode yang sama menegaskan hal yang sudah lama diketahui tapi sering dilupakan. Pemilihan sektor jauh lebih menentukan ketimbang sekadar mengejar nama-nama dengan harga per lembar yang bikin decak kagum.