SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rusia Hujani Ukraina 70 Rudal dalam Empat Hari, Od...

Internasional

Rusia Hujani Ukraina 70 Rudal dalam Empat Hari, Odesa Jadi Sasaran Utama

Rentetan serangan rudal dan drone Shahed buatan Iran menghantam wilayah selatan Ukraina, menyusul ledakan di Jembatan Krimea. Zelensky mengakui pertahanan udara negaranya belum mampu menutup seluruh langit.

Rusia Bombardir Ukraina dengan 70 Rudal dan 90 Amunisi Drone Shahed dalam Sepekan

Empat hari. Dalam rentang itu, Rusia meluncurkan hampir 70 rudal dari berbagai jenis dan hampir 90 drone Shahed buatan Iran ke wilayah Ukraina, dengan Odesa dan Mykolaiv sebagai sasaran yang paling dihajar.

Presiden Volodymyr Zelensky mengungkap angka itu dalam pidato malamnya pada Kamis (20/7/2023), menghitung kehancuran sejak Senin (17/7) pekan yang sama. Pelabuhan Laut Hitam di Odesa tercatat mengalami kerusakan infrastruktur, pukulan bagi jalur ekspor biji-bijian yang sudah lama jadi titik tarik-ulur antara Kiev dan Moskow.

Serangan ini bukan tiba-tiba. Rusia secara eksplisit menyebutnya sebagai pembalasan atas ledakan di Jembatan Krimea pada Senin (17/7), jembatan yang menghubungkan daratan Rusia ke Semenanjung Krimea, wilayah yang dicaplok Moskow sejak 2014. Moskow menuduh Ukraina berada di balik serangan itu. Jembatan itu bukan sekadar infrastruktur sipil, eh, bukan jembatan biasa. Urat nadi logistik militer Rusia di selatan. Kehilangannya, meski parsial, terasa.

Zelensky mengakui sebagian rudal dan drone berhasil dijatuhkan pasukan pertahanan udara Ukraina. Tapi kenyataannya pahit: kapasitas yang ada belum cukup untuk melindungi seluruh langit negara itu. "Berkali-kali saya berterima kasih kepada karyawan pelabuhan kami yang melakukan segalanya untuk menjaga potensi ekspor Ukraina," ujarnya, kalimat yang terdengar seperti pujian sekaligus pengakuan betapa rawannya posisi mereka.

Zelensky juga meminta Perdana Menteri Denys Shmyhal untuk mempertimbangkan mengganti Menteri Kebudayaan Oleksandr Tkachenko, atas alokasi sumber daya anggaran. Entah kebetulan atau tidak, pergantian internal di tengah krisis kerap dibaca sebagai sinyal tekanan dari dalam.

Pertanyaan yang menggantung tetap sama: sampai kapan? Perang ini sudah melewati 500 hari lebih, menguras cadangan senjata Barat, menekan harga pangan global, dan membuat rute pelayaran Laut Hitam jadi zona spekulasi tinggi. Setiap eskalasi membuka celah negosiasi, tapi juga menutupnya secepat kilat.

Yang paling cuan dari semua ini, agaknya, bukan pihak yang menang di medan perang.