KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rusia Dihajar Krisis Bensin, Ukraina Siapkan Tekan...

Internasional

Rusia Dihajar Krisis Bensin, Ukraina Siapkan Tekanan Lebih Jauh

Serangan drone Ukraina yang sistematis ke kilang minyak Rusia mulai menghasilkan dampak nyata: produksi bensin anjlok 25 persen, antrean panjang mengular di SPBU, dan Putin terpaksa mengakui ada masalah.

Rusia Krisis Bahan Bakar, Akankah Putin Terpaksa Bernegosiasi?

Sepanjang Juni, kilang minyak di Moskow, Nizhnekamsk, Tyumen, dan Volgograd ludes dihantam drone Ukraina. Sebulan sebelumnya, 16 kilang sudah jadi sasaran dalam kampanye yang makin presisi dan makin nekat.

Hasilnya bisa dilihat di pompa bensin mana saja di Rusia sekarang. Produksi bensin terjun 25 persen, tersisa 85 ribu ton per hari, sedangkan konsumsi musim panas mencapai 110 ribu ton. Defisit itu bukan angka di atas kertas. Antrean mengular di SPBU dari Moskow sampai ujung Siberia, dan para analis lembaga pemikir Energy Intelligence menyebut ini berpotensi menjadi krisis bahan bakar terburuk dalam sejarah Rusia modern.

Pada 28 Juni, Vladimir Putin akhirnya angkat bicara. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah, dia mengakui adanya "tingkat tertentu kekurangan bahan bakar" dan menyebut serangan drone Ukraina sebagai biang keroknya, meski buru-buru menambahkan bahwa situasinya "tidak kritis" dan fasilitas rusak diperbaiki cepat. Klaim yang masih perlu dibuktikan: portal berita Rusia Wjorstka mencatat pembatasan penjualan bahan bakar sudah menjangkau 78 wilayah, jauh lebih luas dari angka resmi 40 wilayah versi RBC.

"Putin terpaksa mengakui secara terbuka bahwa masalah ini memang ada," kata Margarita Zavadskaya, ilmuwan politik di Finnish Institute of International Affairs. Yang lebih penting, kata Zavadskaya dalam wawancara dengan DW, Putin juga menyebut penyebabnya secara eksplisit: serangan drone Kyiv.

Dari Kyiv, respons Zelensky terang-terangan. Presiden Ukraina itu mengejek kondisi ini secara publik, menyoroti foto-foto antrean panjang di SPBU Rusia. "Dan ini salah satu contoh bagaimana Ukraina merespons. Secara tepat. Bukan secara teroris," katanya. Zelensky juga menyinggung retorika lama Moskow yang kerap merendahkan Ukraina sebagai "sekadar SPBU". Kini berbalik. Telak.

Strategi Ukraina bukan sekadar bakar-bakaran kilang. Menurut Christina Harward dari Institute for the Study of War, perbedaan tahun ini terletak pada kualitas dan jangkauan drone yang meningkat drastis, ditambah upaya sistematis mendeteksi dan menghancurkan sistem pertahanan udara Rusia. Serangan kini menembus radius 20 hingga 200 kilometer ke dalam wilayah Rusia. Harward menyebutnya "perkembangan baru dari pihak Ukraina dalam perang ini."

Dampaknya mulai terasa di garis depan. Ada laporan prajurit Rusia di sekitar Huljajpole, di wilayah Zaporizhzhia, mulai kekurangan bahan bakar, amunisi, dan logistik. Di Donetsk, pasokan artileri dan drone pengintai juga kian sering tersendat.

Krimea agaknya titik paling rawan. Sejak 26 Juni, otoritas bentukan Moskow di semenanjung itu menetapkan status darurat menyusul serangkaian serangan yang memicu kelangkaan bahan bakar sekaligus pangan. Sejarawan Mark Galeotti dari University College London menilai Ukraina sengaja menyasar Krimea karena kesulitan logistik di sana jauh lebih sulit ditutupi. "Mereka berharap tekanan terhadap Krimea akan memaksa Putin memulai perundingan damai yang serius," ungkap Galeotti kepada DW, menjelaskan kalkulasi Kyiv.

Zelensky sendiri menyebut serangan-serangan ini sebagai "sanksi jangka menengah dan jangka panjang" untuk mendorong Moskow kembali ke meja perundingan.

Pertanyaannya: sampai kapan Putin tahan?

Galeotti mengingatkan, tekanan berlebih bisa kontraproduktif. Putin masih punya kartu: mobilisasi ratusan ribu personel cadangan, pengiriman sekitar 150 ribu wajib militer yang sejauh ini belum disentuh, dan dalam skenario paling gelap yang probabilitasnya kecil, opsi nuklir taktis. "Pilihan memang ada, tetapi semuanya pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh Putin bersedia melangkah," kata Galeotti.

Ekonomi Rusia belum di ambang kolaps. Tidak ada tanda pemberontakan massal atau kudeta. Tapi Galeotti ragu stamina itu bisa bertahan lama. Dalam satu tahun, katanya, kerusakan kumulatif terhadap ekonomi Rusia akan terlalu besar untuk diabaikan. Kalau sampai titik itu, Moskow mau tidak mau harus mencari jalan lain.