Pekan ini Rusia tidak sedang main-main. Lebih dari 64.000 personel militer dikerahkan dalam latihan pasukan nuklir selama tiga hari, melibatkan lebih dari 7.800 unit persenjataan, lebih dari 200 peluncur rudal, 140 pesawat, 73 kapal permukaan, dan 13 kapal selam, delapan di antaranya kapal selam penjelajah pembawa rudal strategis.
Skala mobilisasi semacam ini bukan sesuatu yang biasa. Kementerian Pertahanan Rusia, mengutip kantor berita Tass, menyebut tujuan latihan adalah mempersiapkan unit dan formasi pasukan nuklir dalam mencapai target yang telah ditetapkan, termasuk melakukan uji peluncuran rudal balistik dan rudal jelajah di sejumlah area latihan di seluruh wilayah Rusia. Latihan besar-besaran itu berjalan bersamaan dengan simulasi nuklir gabungan Rusia-Belarusia yang dimulai Senin (18/5).
Di sisi Belarusia, pasukan udara dan pasukan rudal strategis ikut dilibatkan penuh. Kementerian Pertahanan Minsk menegaskan bahwa latihan ini difokuskan pada praktik pengiriman amunisi nuklir dan persiapan penggunaannya dalam koordinasi dengan pihak Rusia. "Selama latihan, telah direncanakan untuk mempraktikkan isu-isu terkait pengiriman amunisi nuklir dan persiapan penggunaannya dalam kerja sama dengan pihak Rusia," demikian pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Belarusia, seperti dilansir AFP. Latihan ini, tambah Minsk, "tidak ditujukan terhadap negara ketiga dan tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan di kawasan tersebut." Klaim yang terdengar familier di setiap latihan militer berskala besar.
Konteksnya cukup keras untuk diabaikan. Latihan ini digelar beberapa bulan setelah Perjanjian New START antara Rusia dan Amerika Serikat resmi berakhir pada Februari lalu. Dengan runtuhnya kesepakatan itu, dua kekuatan nuklir terbesar di dunia kini secara formal terbebas dari pembatasan jumlah hulu ledak dan alat pengirimannya. Pekan lalu Moskow juga menguji coba rudal balistik antarbenua Sarmat, senjata yang diklaim mampu menjangkau target lebih dari 35.000 km dengan daya ledak yang, menurut Putin sendiri, empat kali lebih besar dibanding sistem rudal Barat setara. Sarmat dijadwalkan mulai dioperasionalkan penuh pada akhir 2026.
Sejak tahun lalu, Moskow sudah terlebih dahulu menempatkan sistem rudal hipersonik Oreshnik berkemampuan nuklir di wilayah Belarusia. Langkah itu yang kemudian memantik latihan gabungan kali ini, sekaligus mempertinggi taruhan dalam persaingan strategis dengan aliansi Barat. Dua langkah, satu pesan.
Respons Kyiv tidak lama menunggu. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pekan lalu memerintahkan penguatan perbatasan utara yang berbatasan langsung dengan Belarusia, setelah intelijen mendeteksi persiapan serangan baru dari arah itu. Zelensky secara terbuka menuduh Moskow tengah menyeret Belarusia lebih dalam ke dalam konflik, setelah negara yang dipimpin Alexander Lukashenko selama lebih dari 30 tahun itu digunakan sebagai batu loncatan invasi pada 2022. Putin sendiri, yang menghadapi serangkaian kemunduran dalam invasi yang sudah berjalan lebih dari empat tahun, kerap mengangkat retorika nuklir setiap kali Barat menambah pasokan senjata ke Kyiv.
Latihan ini juga berlangsung menjelang kunjungan Putin ke China. Agaknya Moskow ingin tampil dari posisi kekuatan penuh di panggung diplomatik. Pertanyaannya bukan lagi seberapa jauh Rusia akan mendorong batas, melainkan seberapa lama komunitas internasional akan membiarkan batas itu terus bergeser.