KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Tersungkur ke Rp17.386, Negosiasi AS-Iran B...

Ekonomi

Rupiah Tersungkur ke Rp17.386, Negosiasi AS-Iran Buntu Angkat Dolar

Mata uang Garuda membuka pekan ini dengan pelemahan, tertekan kombinasi kebuntuan negosiasi AS-Iran dan kekhawatiran atas data keyakinan konsumen domestik yang terus merosot.

Breaking News! Dolar AS Naik ke Rp17.370

Rupiah kembali tersungkur. Pada pembukaan perdagangan Senin (11/5/2026), nilai tukar mata uang Garuda melemah 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.386 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.382 per dolar AS.

Penyebabnya bukan rahasia. Negosiasi AS-Iran buntu, dan pasar bereaksi seperti biasa saat ketidakpastian geopolitik memanas: lari ke dolar.

Indeks dolar AS atau DXY per pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,16% ke level 98,052. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak tawaran Iran dalam proses diplomasi yang sudah berlangsung selama 10 pekan. Trump menyebut respons Teheran sebagai "totally unacceptable". Iran sebelumnya menawarkan pengalihan sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga, tapi tetap menolak membongkar infrastruktur nuklirnya. Tawaran setengah hati, agaknya, yang memang tidak pernah dimaksudkan untuk diterima.

Mandeknya pembicaraan damai turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Bagi Indonesia sebagai importir energi, ini bak pedang bermata dua: tekanan valas datang bersamaan dengan potensi pembengkakan neraca perdagangan.

Dari dalam negeri, sentimennya juga tidak banyak membantu. Bank Indonesia hari ini dijadwalkan merilis data Indeks Keyakinan Konsumen periode April 2026. Pada Maret lalu, IKK sudah amblas ke 122,9 dari 125,2 pada Februari, menjadi level terendah sejak Oktober tahun lalu. Komponen penyusunnya kompak melemah: indeks ekspektasi kondisi ekonomi tergerus 4,0 poin ke 130,4, sementara ekspektasi pendapatan enam bulan mendatang turun 3,0 poin ke 137,7. Konsensus pasar memperkirakan IKK April masih melanjutkan pelemahan ke level 122.

Angka yang tidak main-main.

Kalau proyeksi itu terealisasi, ini bisa jadi sinyal yang lebih serius dari sekadar hasil survei bulanan. Konsumsi rumah tangga masih menyumbang porsi terbesar dalam struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertanyaannya, berapa lama daya tahan konsumen bertahan di tengah tekanan yang datang dari dua arah sekaligus?

Selama negosiasi AS-Iran belum menemukan titik terang, entah kebetulan atau tidak, rupiah agaknya masih akan terjebak di level yang kurang nyaman ini.