Senin pagi, rupiah langsung dibuka di zona merah. Nilai tukar Mata Uang Garuda tergerus 4 poin ke level Rp17.386 per dolar AS, melanjutkan pelemahan dari posisi penutupan Jumat lalu di Rp17.382.
Bukan angka yang dramatis, memang. Tapi arah pergerakannya yang perlu dicermati.
Sepanjang pekan lalu, rupiah sempat menembus Rp17.400-an sebelum sedikit menguat kembali. Kini, dengan tekanan yang belum mereda, para pengamat memperkirakan Mata Uang Garuda masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 untuk perdagangan hari ini.
"Untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.380 hingga Rp17.430," kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.
Dua sumber tekanan utama mewarnai pergerakan rupiah saat ini. Satu dari Timur Tengah, satu lagi dari Washington.
Di Selat Hormuz, situasinya agaknya jauh lebih ruwet dari yang diharapkan. AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan yang akan membuka kembali jalur vital ini, jalur pengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Tapi pertempuran kembali pecah. Iran menuding AS melanggar gencatan senjata, sementara pihak Amerika mengklaim serangannya hanyalah respons atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya. Militer Iran bahkan menyebut kapal tanker minyak dan wilayah sipil jadi sasaran.
Yang bikin pasar gelisah: Presiden Donald Trump masih menyatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata "masih berlaku", persis ketika baku tembak tengah berlangsung. Perang ini sudah berjalan sejak 28 Februari 2026. Sinyal yang saling bertolak belakang dari Washington hanya menambah bahan bakar ketidakpastian.
Ketidakpastian, seperti biasa, tidak bersahabat dengan mata uang negara berkembang.
Dari sisi The Fed, peta juga tidak terlalu jelas. Tiga pejabat, tiga arah. Beth Hammack dari Fed Cleveland menyatakan suku bunga akan tetap stabil untuk beberapa waktu. Mary Daly dari Fed San Francisco mengambil sikap lebih hawkish, menegaskan komitmen menurunkan inflasi ke target 2 persen. Neel Kashkari dari Fed Minneapolis menilai inflasi masih terlalu tinggi untuk dilonggarkan. Pasar pun kesulitan membaca ke mana The Fed akan melangkah.
Dolar AS tetap perkasa. Rupiah menanggung konsekuensinya. Investor yang memegang aset dalam denominasi dolar agaknya bisa sedikit bernapas lega, tapi kalau data dan sinyal geopolitik ini bisa dipercaya, yang portofolionya berat di instrumen rupiah perlu memantau perkembangan Selat Hormuz lebih seksama dari sebelumnya.