Rupiah kembali dihajar. Per Jumat (15/5/2026), nilai tukar menyentuh Rp17.600 per dolar AS, mencetak rekor terlemah terbaru yang langsung memantik respons dari gedung DPR hingga kalangan analis pasar.
Anggota Komisi XI DPR Eric Hermawan terang-terangan meminta Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Logikanya sederhana: BI Rate yang lebih tinggi diharapkan mampu menarik aliran modal masuk dan menciptakan perimbangan terhadap permintaan dolar. "Bank Indonesia siang malam menjaga BI Rate supaya stabil, dan saya menyarankan ke BI agar menaikkan suku bunga agar ada perimbangan dollar, sehingga (dollar) turun," kata Eric, Minggu (17/5/2026).
Desakan dari Senayan itu punya pijakan di sisi analis. Mandiri Sekuritas memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan pelemahan rupiah yang kian dalam. Agaknya konsensus mulai terbentuk di kalangan pelaku pasar: ruang untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini semakin sempit.
Eric sendiri tidak menuding KSSK sebagai biang kerok. Politikus Golkar itu menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipicu dinamika ekonomi global yang memukul hampir semua negara berkembang. Dari sisi fiskal, ia menyebut Kementerian Keuangan telah berupaya menahan laju dolar lewat sejumlah program perbankan yang menyasar pertumbuhan UMKM dan sektor korporasi. "Pemerintah melalui Menteri Keuangan sudah berupaya keras menahan laju dollar dengan beberapa program perbankan yang meningkatkan pertumbuhan UMKM dan sektor korporasi," kata dia. OJK pun disebut terus melakukan koreksi terukur agar bursa tidak ikut tergelincir terlalu dalam.
Sementara semua ini berlangsung, Presiden Prabowo Subianto justru tampil santai. Saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sabtu (16/5/2026), Prabowo meminta masyarakat tidak panik selama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum. "Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, enggak usah kau khawatir itu. Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dollar," seloroh Prabowo. Kalimat itu langsung ramai diperbincangkan.
Prabowo juga mengeklaim fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Setidaknya itu klaimnya, angka-angka yang akan membuktikan atau membantahnya. Bagi pelaku pasar yang setiap hari menatap layar dan melihat rupiah terus tergerus, keyakinan verbal dari istana tentu tidak cukup sebagai penenang.
Eric pun menyelipkan peringatan untuk para pengusaha sembako: jangan manfaatkan momen ini untuk menaikkan harga secara sepihak. Kalau spekulasi harga pangan ikut bergerak liar, tekanan inflasi bisa memperburuk situasi dan memukul daya beli kelompok paling rentan.
Pertanyaannya sekarang, apakah rapat Dewan Gubernur BI berikutnya akan menjadi momen di mana suku bunga akhirnya dikerek? Pasar, sepertinya, sudah mulai memperhitungkan kemungkinan itu.