JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Rp17.500, Bantul Andalkan Pangan Lokal untu...

Ekonomi

Rupiah Rp17.500, Bantul Andalkan Pangan Lokal untuk Tahan Banting

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.500 per dolar AS memaksa pemerintah daerah memperketat pemantauan harga bahan pokok, sementara di tingkat nasional Menko Pangan dan Mendag turun langsung ke pasar.

Dampak Rupiah Melemah, Pemkab Bantul Waspadai Harga Pangan yang Rentan

Rupiah sempat menyentuh Rp17.500 per dolar AS, dan dampaknya mulai terasa di lapak-lapak pasar tradisional. Di level nasional, Menko Pangan dan Menteri Perdagangan turun langsung meninjau harga dan pasokan bahan pokok, sinyal bahwa tekanan terhadap daya beli sudah serius untuk ditangani dari atas.

Pemkab Bantul bergerak lebih dini. Pemantauan harga diperketat, masyarakat diminta tidak panik. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bantul, Fenty Yusdayati, menegaskan komoditas utama seperti beras dan bawang merah masih aman karena pasokannya bertumpu pada produksi lokal, bukan impor.

Bukan berarti tanpa tekanan. Fenty mengakui sejumlah komoditas mulai merasakan getah pelemahan kurs: kedelai perlahan naik, plastik sempat terkerek karena kombinasi tekanan nilai tukar dan situasi geopolitik di Timur Tengah. Cabai dan minyak goreng masuk daftar yang perlu diwaspadai.

"Di DIY itu masih belum masuk kategori warning, bisa dibilang aman. Harga eceran tertinggi juga masih relatif aman," kata Fenty, Jumat (15/5/2026).

Aman, tapi tetap perlu diwaspadai. Agaknya itulah gambaran paling jujur situasi saat ini. Selama pasokan lokal bertahan dan rantai distribusi tidak terganggu, guncangan kurs tidak serta-merta menerjemahkan diri menjadi inflasi pangan yang masif. Masalahnya, tidak semua komoditas punya kemewahan itu.

Kedelai adalah kasus paling telanjang. Bahan baku tempe dan tahu, dua protein nabati yang menopang konsumsi kelas bawah dan menengah, kini merangkak naik harganya seiring tekanan impor. Para pengrajin tahu-tempe di Bantul, yang selama ini sudah berjibaku dengan margin tipis, kena tampar lagi.

Pemkab Bantul merespons dengan menggelar pasar murah di beberapa kapanewon, salah satunya di Pandak. Langkah lama. Tapi terbukti efektif menahan lonjakan di tingkat konsumen akhir.

Pesan yang terus diulang: jangan panic buying. Bukan sekadar basa-basi. Aksi borong massal justru menciptakan kelangkaan semu yang mendorong harga naik, persis spiral yang ingin dihindari semua pihak. Sepanjang permintaan tetap normal dan pasokan lokal mencukupi, stabilitas masih bisa dijaga, kalau data ini bisa dipercaya.

Pertanyaannya tinggal satu: sampai berapa lama rupiah akan bertengger di level ini, dan seberapa dalam dampaknya akan meresap ke komoditas-komoditas yang selama ini masih terlindungi produksi domestik.