SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Menguat Pagi Ini, Tapi Kinerja Sepanjang 20...

Finansial

Rupiah Menguat Pagi Ini, Tapi Kinerja Sepanjang 2026 Masih Salah Satu Terparah di Asia

Rupiah berhasil menguat 0,20% ke Rp17.870/US$ di awal perdagangan Senin, namun secara year-to-date tekanan masih mencapai 6,72%, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan depresiasi terbesar sepanjang 2026.

Mata Uang Asia Digilas Dolar: Rupiah Takluk, Tapi Ringgit Perkasa

Rupiah membuka pekan baru dengan wajah lebih segar. Mata uang Garuda menguat 0,20% ke posisi Rp17.870 per dolar AS pada perdagangan Senin (29/6/2026) pagi, berbalik dari penutupan Jumat sebelumnya di Rp17.905 per dolar AS yang sempat bikin pasar dag-dig-dug menanti jebolnya level psikologis Rp18.000.

Penguatan ini, agaknya, sedikit mempertebal napas investor lokal setelah akhir pekan yang tidak nyaman. Jumat (26/6), rupiah amblas 0,36% dan menjadi salah satu mata uang Asia yang paling dihajar bersama baht Thailand yang tergerus 1,46% dan peso Filipina yang terkoreksi 0,96%.

Tapi jangan dulu terlalu lega. Penguatan harian ini belum mengubah peta besar. Sepanjang 2026, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 6,72% terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu yang terburuk di kawasan. Won Korea Selatan menempel ketat di posisi 6,67%, sementara baht Thailand mencatat pelemahan 5,87%. Di ujung lain spektrum, yuan China justru masih perkasa dengan apresiasi 2,71% secara year-to-date.

Ringgit Malaysia menjadi bintang kawasan pagi ini, menguat 0,42% ke MYR 4,068 per dolar AS. Bak gayung bersambut, momentum itu meneruskan reli Jumat lalu ketika ringgit menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling tajam, yakni 1,19%. Kontras yang mencolok, mengingat secara kumulatif ringgit hanya terdepresiasi 0,29% sejak awal tahun, jauh lebih tangguh dibanding rupiah.

Latar belakangnya tidak sederhana. Dolar AS secara teknikal memang sedikit melempem, dengan indeks DXY melemah tipis 0,01% ke 101,347 pada Senin pagi. Namun greenback masih bertengger di level tinggi, berada dalam tren kenaikan bulanan terbesar dalam hampir setahun. Kombinasi yang pelik memicunya: ketegangan AS-Iran yang belum benar-benar tuntas, harga minyak yang kembali merayap naik setelah serangan terbaru di Selat Hormuz, ditambah rotasi investor dari aset berisiko ke safe haven.

Dari sisi kebijakan moneter, debut Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang bernada hawkish di awal bulan ini telah membalikkan ekspektasi pasar. Pemangkasan suku bunga yang semula menjadi tema utama kini berbalik arah. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli sudah mencapai 29,90%, sementara peluang suku bunga ditahan berada di 70,10%.

Data PCE inflasi AS yang dirilis Jumat kemarin turut mewarnai sentimen. Naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026, didorong lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah. Angka ini sejalan ekspektasi, tapi tetap saja jauh dari target 2% The Fed. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut ada sedikit sinyal melegakan dari inflasi jasa, tapi tekanan harga inti, katanya, masih bergerak ke arah yang kurang nyaman. Presiden The Fed New York John Williams lebih moderat: inflasi kemungkinan akan mereda tahun ini, meski levelnya masih terlalu tinggi untuk saat ini.

Joseph Capurso, head of foreign exchange Commonwealth Bank of Australia, tidak melihat tanda-tanda dolar AS akan berbalik arah dalam waktu dekat. "Kami memperkirakan dolar AS akan bergerak lebih tinggi dalam beberapa pekan mendatang karena narasi keunggulan ekonomi AS," ujar Capurso dalam catatannya. Pasar tenaga kerja yang kuat dan membaik, tambahnya, bisa menjadi amunisi bagi suku bunga AS yang lebih tinggi dan dolar yang lebih keras.

Katalis berikutnya sudah di depan mata: data nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran AS akan dirilis pekan ini. Hasilnya bisa menjadi penentu apakah rupiah mampu bertahan di zona hijau, atau kembali terseret ke ambang Rp18.000 yang selama ini coba dijaga Bank Indonesia lewat instrumen SRBI dan pasar obligasi.