JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Melemah: Berkah untuk Petani, Jebakan untuk...

Finansial

Rupiah Melemah: Berkah untuk Petani, Jebakan untuk yang Doyan Paylater

Mentan Amran klaim pelemahan rupiah justru untungkan petani lewat lonjakan ekspor pertanian. Tapi akademisi ingatkan bahaya paylater di tengah tekanan kurs dan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Pelemahan Rupiah Berpengaruh ke Masyarat Desa, Begini Penjelasan Mentan

Rupiah sempat menyentuh Rp 17.600 per dolar AS beberapa waktu lalu, dan seperti biasa, debat soal siapa yang paling terdampak langsung membelah opini publik. Pemerintah bilang tenang, fundamentalnya kuat. Tapi ada peringatan yang agaknya lebih menohok buat kelas menengah urban: jangan andalkan paylater untuk bertahan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman punya argumen yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia mengakui ada dampak negatif dari pelemahan rupiah, bawang putih misalnya, harganya terkerek karena mayoritas pasokan masih impor. Tapi ia balik bertanya, berapa banyak komoditas Indonesia yang justru diekspor? Dalam media briefing di Jakarta, Selasa (19/5/2026), Amran menegaskan bahwa penguatan dolar AS bisa jadi berkah bagi petani eksportir.

Datanya bicara. Mengutip BPS, Amran menyebut ekspor sektor pertanian pada 2025 melonjak 28,26% menjadi Rp 166 triliun, sementara impor pertanian turun 9,66% ke Rp 41 triliun. Selisih yang tidak main-main. "Dampak positifnya lebih tinggi," klaim Amran, seraya mengingatkan bahwa pemerintah juga menahan harga BBM subsidi dan bahkan memangkas harga pupuk subsidi hingga 20%.

Pernyataan ini senada dengan narasi Presiden Prabowo Subianto sebelumnya. Saat meresmikan 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Tingul, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menyebut warga desa tidak terlalu bergantung pada dolar, sehingga gejolak kurs tidak perlu terlalu dikhawatirkan. "Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat," ujarnya.

Narasi itu mungkin benar untuk petani yang menjual komoditas ekspor. Bagi segmen lain, terutama masyarakat urban yang konsumsinya masih bergantung pada produk impor atau yang harganya terindeks dolar, tekanannya nyata. Beda cerita.

Saat rupiah melemah dan harga kebutuhan merangkak naik, godaan menutup gap pengeluaran lewat paylater terasa masuk akal secara psikologis. Beli sekarang, bayar nanti. Tapi dengan bunga yang tidak murah dan tekanan harga yang bisa bertahan berbulan-bulan, cicilan hari ini bisa menjadi bom waktu. Pertanyaannya, kapan sumbu itu menyentuh ujung?

Pola ini bukan baru. Saat pandemi, penggunaan paylater melonjak di kalangan yang pendapatannya stagnan tapi pengeluarannya tidak. Yang nyangkut bukan mereka yang tidak paham produk keuangan, melainkan mereka yang terlalu percaya diri soal kemampuan bayar esok hari. Pola klasik, bak gayung bersambut antara kebutuhan mendesak dan kemudahan akses kredit.

Konflik geopolitik global yang belum mereda, tekanan impor energi, dan volatilitas kurs membuat kalkulasi itu kian gelap. Bagi investor ritel, ini saat yang tepat untuk mencermati emiten dengan eksposur tinggi terhadap bahan baku impor. Merekalah yang paling cepat merasakan erosi margin, kalau rupiah tidak segera balik badan.