Rupiah belum menemukan nafas. Sabtu (4/7/2026) pukul 10.48 WIB, kurs dollar AS bertengger di Rp 17.963, angka yang sudah cukup untuk bikin pelaku pasar was-was, terutama mereka yang punya eksposur ke aset valas.
Tren penguatan dollar terhadap rupiah masih berlanjut sepanjang pekan ini. Sentimen global agaknya jadi variabel paling dominan: ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed belum luruh, sementara dinamika perdagangan internasional juga belum sepenuhnya reda. Bak dua beban yang ditanggung bersamaan.
Yang menarik, pelemahan rupiah tidak serta-merta menyeret IHSG ke zona merah. Indeks justru menguat 2,28 persen ke level 5.875,78. Pasar saham domestik bergerak dengan logikanya sendiri, setidaknya untuk sesi ini. Dua arah berbeda, satu hari.
Di tingkat bank, nilai tukar dollar terpantau bervariasi tergantung jenis transaksi. Bank Mandiri, BCA, dan BNI masing-masing punya selisih tipis antara e-rate, TT counter, dan bank notes. E-rate lazimnya dipakai untuk transaksi valas skala besar yang dinegosiasikan langsung dengan bank. TT counter melayani transaksi harian di cabang. Bank notes, alias transaksi tunai mata uang asing, biasanya punya spread lebih lebar ketimbang dua mekanisme sebelumnya.
Bagi investor ritel, level Rp 17.963 ini bukan angka yang bisa dikibaskan begitu saja. Kalau rupiah terus tergerus, biaya impor menanjak, inflasi bisa ikut terkerek, dan tekanan terhadap emiten berutang valas makin nyata. Pertanyaannya: sampai di mana?