Dua kuartal lalu, rupiah masih relatif aman di kisaran Rp15.000-an per dolar AS. Sekarang angkanya sudah berbeda jauh, dan industri smartphone Indonesia mulai merasakan getarannya.
Kurs yang kini bergerak di atas Rp17.500 per dolar jadi alarm serius bagi pasar ponsel nasional. Sebagian besar komponen smartphone, dari modul kamera hingga chipset, masih berdenominasi dolar. Setiap kali kurs bergerak, margin produsen langsung tergerus. Ujung-ujungnya konsumen yang menanggung.
"Kalau dulu rata-rata ponsel dihitung dengan kurs Rp15.000 per dolar AS, sekarang sudah Rp17.000 lebih. Banyak komponen dalam dollar AS sehingga mau tidak mau akan ada penyesuaian harga," kata Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute.
Tapi rupiah bukan satu-satunya soal. Di level global, pasokan chip sedang diperebutkan. Lonjakan pembangunan data center untuk infrastruktur kecerdasan buatan membuat produsen semikonduktor lebih memilih melayani kebutuhan server AI ketimbang perangkat konsumen. Smartphone, laptop, komputer pribadi, semuanya harus antre. Antreannya panjang. Heru menyebut kelangkaan ini sudah mempengaruhi harga di lapangan, bukan sekadar proyeksi.
Kombinasi dua tekanan itu, kurs dan chip, membuat kenaikan harga ponsel di kuartal II/2026 agaknya tinggal soal kapan.
Di sisi permintaan, konsumen pun mulai mengerem. Sikap wait and see mewarnai keputusan pembelian banyak pengguna. "Kalau memang mereka membutuhkan ponsel baru, dia akan beli. Kalau misalnya panel-nya masih berfungsi dengan baik, mereka akan melihat perkembangan ke depan," jelas Heru. Entah kebetulan atau tidak, pola ini persis terjadi saat ketidakpastian ekonomi sedang tinggi.
Tekanan dari sisi kebijakan ikut memperkeruh suasana. Polemik soal kemungkinan pemberian fasilitas bea masuk 0% untuk produk Apple jadi ganjalan tersendiri bagi produsen yang sudah lebih dulu patuh membangun fasilitas perakitan di Indonesia demi memenuhi aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). "Saya sendiri sudah dapat keluhan dari pabrikan-pabrikan ponsel yang sudah membangun pabrik di Indonesia, walaupun perakitan, mereka menganggap ini ada ketidakadilan," ujar Heru. Kalau data ini bisa dipercaya, sebagian dari mereka mulai menimbang ulang strategi investasi manufaktur di tanah air.
Potret pasar global kuartal I/2026 menambah konteks yang cukup gamblang. Total pengiriman smartphone dunia mencapai 289,7 juta unit, amblas 4,1% dari 302 juta unit setahun sebelumnya. Samsung memimpin dengan 62,8 juta unit, tumbuh 3,6% secara tahunan, ditopang permintaan kuat Galaxy S26 Ultra dan peluncuran awal lini menengah Galaxy A. Apple menyusul di posisi dua dengan 61,1 juta unit, naik 3,3%, meski masih terganjal gangguan pasokan di beberapa pasar.
Nasib vendor menengah? Beda cerita. Xiaomi mencatat penurunan terdalam di antara lima besar, minus 19,1% menjadi 33,8 juta unit dari 41,8 juta unit setahun lalu. OPPO tergerus 9,9% ke 30,7 juta unit, vivo melemah 6,8% ke 21,2 juta unit. Konsolidasi ini, ditambah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, berpotensi mempersempit pilihan di segmen harga terjangkau, justru di saat daya beli sedang tertekan.
Bagi konsumen kelas menengah Indonesia yang selama ini mengandalkan ponsel di rentang Rp2-5 juta, ini skenario yang paling perlu diwaspadai: harga naik, pilihan menyempit, dan nilai tukar belum ada tanda-tanda akan berbalik dalam waktu dekat.