RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rudal Iran Menggelegar di Kuwait dan Bahrain, AS G...

Internasional

Rudal Iran Menggelegar di Kuwait dan Bahrain, AS Gempur Instalasi di Qeshm dan Goruk

Tujuh rudal balistik Iran menghantam arah Kuwait dan Bahrain, sementara AS membakar instalasi radar di Pulau Qeshm. Gencatan senjata ada di atas kertas, tapi di lapangan senjata terus berbicara.

Memanas, Iran Luncurkan Rudal-Drone ke Kapal Perang AS

Tujuh rudal balistik Iran melesat ke arah Kuwait dan Bahrain pada Sabtu (6/6/2026). Bersamaan dengan itu, angkatan udara AS meledakkan stasiun radar dan pangkalan drone di Pulau Qeshm, Goruk, dan Sirik. Bukan lagi insiden kecil di tepian Selat Hormuz. Ini eskalasi penuh.

Sepanjang Sabtu, sirene peringatan serangan udara meraung setidaknya lima kali di Kuwait. Ledakan terdengar berulang kali di langit, sebagian dicegat sistem pertahanan udara Kuwait dan Bahrain, sebagian lagi menghantam lokasi yang diklaim media Iran sebagai Pangkalan Udara Ali Salem, salah satu titik operasi AS di kawasan. Centcom bergegas membantah pangkalan itu berhasil ditembus. Tapi di napas yang sama, mereka mengakui Iran melepaskan drone tambahan ke arah Selat Hormuz yang diklaim mengancam jalur pelayaran komersial.

Di Laut Oman, ceritanya berbeda lagi. Militer Iran mengklaim Angkatan Lautnya melepaskan tembakan peringatan menggunakan rudal Qadir dan drone Shahed Danesh ke arah kapal perusak USS Truxtun (DDG-103) dan USS Mason (DDG-87) pada Jumat (5/6). Kedua kapal itu, menurut Teheran, berfungsi sebagai pusat komando dan kendali untuk operasi bermusuhan AS terhadap pelayaran Iran. Klaim Iran: kedua kapal mundur ke Samudra Hindia. Centcom belum mengonfirmasi klaim itu secara eksplisit, tapi membenarkan pihaknya menyerang instalasi radar Iran sebagai tindakan defensif.

Rangkaian baku serang ini tidak jatuh dari langit. Gelombang kekerasan terbaru sudah berlangsung sejak 28 Mei, ketika AS lebih dulu menghajar Bandar Abbas dan Pulau Sirik. Iran membalas beberapa jam selepas itu, AS menyerang lagi, Iran melacak asal serangan lalu menggebuk titik yang sama. Selasa pekan ini, kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz jadi sasaran. Kemudian Kuwait mengumumkan bandaranya dihantam, Iran balik menuding itu akibat rudal Patriot Kuwait yang gagal mencegat. Kuwait menyangkal, bahkan menyiarkan video rute serangan Iran ke bandara itu. Saling klaim, saling bantah, saling serang.

Yang membuat situasi ini absurd sekaligus berbahaya: gencatan senjata secara resmi masih berlaku. Ditandatangani 7 April, diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump. Presiden AS itu bahkan menyebut kondisi dengan Iran "relatif baik" dan sesumbar, "Kami akan keluar Iran secepatnya dan lebih kuat." Di Teluk Persia, rudal tidak baca press release.

Ada tekanan lain yang agaknya memperumit kalkulasi Washington. Harga minyak melonjak, pupuk ikut terkerek persis di musim tanam, dan harga kebutuhan pokok merangkak di dalam negeri AS. Bagi politisi Republik yang menghadapi pemilu November 2026, dengan seluruh kursi DPR dan sebagian senator dipertaruhkan, konflik yang tak kunjung padam ini mulai terasa seperti beban elektoral. Entah kebetulan atau tidak, tekanan domestik itu belum juga mengubah dinamika di lapangan.

Upaya mediasi yang dipimpin Pakistan masih tertatih. Belum ada yang konkret. Dua angkatan bersenjata terus menghabiskan amunisi, sementara meja perundingan hanya menghasilkan sunyi. Pertanyaannya sederhana: berapa lama lagi sebelum garis itu benar-benar dilampaui?