RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rudal Balistik dari Kapal Selam China Mengubah Kal...

Internasional

Rudal Balistik dari Kapal Selam China Mengubah Kalkulasi Keamanan Pasifik

Angkatan Laut China menguji coba rudal balistik antarbenua dari kapal selam nuklir di Pasifik Selatan pada 6 Juli, memicu protes dari Australia, Jepang, Selandia Baru, hingga NATO.

Uji Coba Rudal China Picu Kekhawatiran Negara-Negara Pasifik

Senin, 6 Juli, Angkatan Laut China menembakkan rudal balistik antarbenua dari kapal selam nuklir ke perairan internasional Pasifik Selatan. Hulu ledak tiruan yang dibawa rudal itu dilaporkan jatuh tepat di area yang sudah ditargetkan. Negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan bereaksi cepat, dan tidak ada yang menyambut hangat.

Di kalangan analis militer China di media sosial, spekulasi langsung mengarah ke satu nama: Julang-3. Dalam bahasa Indonesia, artinya "Gelombang Raksasa-3". Letnan Kolonel Zhang Junshe, peneliti dari Institut Riset Akademik Militer Angkatan Laut PLA, menulis di blognya bahwa rudal yang diuji memiliki jangkauan maksimum sekitar 12.000 kilometer dan mampu mengangkut beberapa hulu ledak nuklir sekaligus. Tiga uji coba yang berhasil sudah tercatat antara 2018 hingga 2019. Rudal ini masih dalam tahap pengembangan, tapi sudah jauh dari sekadar prototipe kertas.

Agaknya diluncurkan dari kapal selam nuklir Tipe 094 Jin. Enam unit kelas ini kini aktif dalam armada China, masing-masing sepanjang 135 meter, mampu menyelam minimal 70 hari dengan sekitar 120 pelaut di dalamnya. Zhang tidak menutup kemungkinan versi modifikasi kapal selam itu ikut terlibat. Di luar armada kelas Jin, menurut Nuclear Threat Initiative, lembaga kajian berbasis di Washington, China juga mengoperasikan sekitar 59 kapal selam serang bertenaga nuklir.

Bukan latihan biasa. Zhang menulis bahwa senjata semacam ini tidak dirancang untuk menghajar pasukan di garis depan. Targetnya berbeda: pusat komando, pangkalan militer, infrastruktur energi. "Bahkan jika seluruh sistem persenjataan militer lainnya dilumpuhkan, kapal selam China tetap memiliki kemampuan penuh untuk melancarkan serangan balasan nuklir," tulisnya. Ini deterrent dalam arti paling harfiah.

Dari Wellington, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters bicara terus terang. "Kami sangat prihatin dengan uji coba senjata yang mampu membawa hulu ledak nuklir yang dilakukan China di Pasifik Selatan," tegasnya. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut uji coba itu mengganggu stabilitas keamanan regional. Jepang, lebih keras, mendesak Beijing meninjau ulang tindakannya.

Uji coba Juli ini bukan yang pertama bikin kawasan gelisah. September 2024, China sudah pernah meluncurkan rudal balistik antarbenua dari daratan, melintasi perairan internasional, dan mendarat di wilayah Polinesia Prancis. Itu uji coba rudal jarak jauh pertama China yang melintasi perairan internasional dalam lebih dari 40 tahun. Kali ini bedanya satu hal yang mengubah segalanya: peluncuran dilakukan dari kapal selam, di Pasifik Selatan itu sendiri.

Bagi Australia, ini terasa paling dekat. Roggeveen dan Vallance dari Lowy Institute menulis dalam studi Juni 2026 bahwa Pasukan Rudal PLA adalah sarana paling efektif yang dimiliki China untuk melancarkan serangan jarak jauh ke Australia. Kalau terjadi konflik regional besar, tulis mereka, pangkalan-pangkalan di utara Australia akan masuk daftar sasaran PLA. Sebulan sebelum uji coba Senin ini, para peneliti itu masih belum menemukan bukti dari sumber terbuka bahwa rudal China dari daratan bisa menjangkau kota-kota besar Australia di pesisir timur. Setelah 6 Juli, kalkulasi itu dianggap sudah berubah. Masif, dan cepat.

Di Ankara, di sela KTT NATO, Sekretaris Jenderal Mark Rutte menyebut uji coba ini pesan yang juga ditujukan ke aliansi Barat. "Ini adalah bukti lebih lanjut bahwa kita tidak boleh bersikap naif... dan memang kita tidak naif," kata Rutte.

China, seperti biasa, menegaskan bahwa seluruh negara tetangga sudah diberi pemberitahuan sebelumnya dan latihan ini tidak ditujukan kepada pihak tertentu. Komitmen no-first-use senjata nuklir kembali diulang Beijing. Klaim yang, setelah uji coba dari bawah laut di jantung Pasifik Selatan, semakin sulit ditelan mentah-mentah oleh negara-negara di sekitarnya.