SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Rubio di Manama: Deal dengan Iran Harus Layak, Buk...

Internasional

Rubio di Manama: Deal dengan Iran Harus Layak, Bukan Sekadar Cepat

Di Manama, Menlu AS Marco Rubio menegaskan Washington menginginkan kesepakatan dengan Iran, tapi bukan yang mengorbankan keamanan sekutu Teluk atau membiarkan Teheran memungut biaya di Selat Hormuz.

AS Tak Akan Korbankan Segalanya Demi Deal dengan Iran

Pertanyaan itu sudah menggantung sejak MoU diteken: sejauh mana Washington rela berkompromi demi kesepakatan dengan Tehran?

Menlu Marco Rubio menjawabnya langsung dari Manama. Dalam Pertemuan Tingkat Menteri Gabungan GCC dan AS yang digelar Kamis (25/6), dia menyampaikan satu pesan yang tidak bisa disalahartikan: AS menginginkan deal yang baik, bukan deal yang cepat. "Meskipun kami menginginkan kesepakatan, kami tidak menginginkan kesepakatan dengan harga berapa pun," tegasnya di hadapan para menlu negara-negara Teluk.

Kunjungan Rubio ke UEA dan Kuwait ini bukan sekadar tur persahabatan pasca-MoU. Negara-negara Teluk agaknya tidak cukup puas menerima kabar baik dari kejauhan. Mereka ingin duduk di meja yang sama, atau setidaknya terus diberi informasi di setiap tahapan perundingan AS-Iran, termasuk soal klausul yang menyangkut Selat Hormuz.

Dua isu paling sensitif mencuat dalam pertemuan itu: program nuklir Iran, dan wacana Tehran memungut biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Hormuz. Soal yang kedua ini yang lebih langsung menusuk kepentingan kawasan.

Rubio tidak main-main. "Jalur pelayaran internasional bukan milik negara mana pun," katanya. "Jika kita benar-benar menerima anggapan bahwa Anda dapat memungut bayaran atas penggunaan jalur pelayaran internasional hanya karena lokasinya kebetulan dekat dengan wilayah kedaulatan Anda, maka hal ini akan menyebar ke seluruh dunia seperti wabah," cetus Rubio, tanpa menyebut Iran secara eksplisit. Tidak perlu. Semua yang hadir tahu siapa yang dimaksud. Dia menambahkan: tidak ada satu pun negara Teluk yang mendukung usulan pungutan itu.

Soal ancaman terhadap Hormuz, Rubio memilih kalimat pendek yang justru paling berat: jika Iran sampai mengancam atau menghalangi kapal-kapal di selat itu, "maka kita akan menghadapi masalah."

Pesan yang menyertainya sama jernihnya. AS mengharapkan perundingan lanjutan dengan Tehran membuahkan hasil, tapi Rubio juga memberi sinyal tegas: jika Iran memilih jalan berbeda, konsekuensinya pun akan berbeda. Kesepakatan yang dimaksud Washington, kata Rubio, harus bisa diverifikasi dan benar-benar dipatuhi, bukan sekadar tanda tangan di atas kertas. "Kami ingin memastikan bahwa tidak ada bagian dari kesepakatan yang dapat melemahkan keamanan, stabilitas, atau kemakmuran mitra-mitra kami di kawasan Teluk," tegasnya.

Bagi pelaku pasar yang mengikuti arus komoditas energi global, dinamika di Selat Hormuz bukan variabel baru. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur itu setiap hari. Pernyataan keras Rubio soal Hormuz keluar persis ketika pasar minyak masih mencoba membaca ke mana arah negosiasi AS-Iran bermuara. Bisa jadi kebetulan. Bisa jadi tidak.