SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  RI-Rusia Perkuat Hubungan Energi dan Dagang, Blok...

Ekonomi

RI-Rusia Perkuat Hubungan Energi dan Dagang, Blok Tuna Segera Digarap

Dua pertemuan bilateral di Kazan dalam sepekan menghasilkan sinyal konkret: BUMN migas Rusia Zarubezhneft siap reaktivasi Blok Tuna Juni 2026, sementara nilai perdagangan kedua negara sudah menyentuh 4,8 miliar dolar AS di 2025.

BUMN Rusia Siap Kembali Garap Blok Tuna per Juni 2026

Kazan menjadi saksi serangkaian pertemuan bilateral Indonesia-Rusia pekan ini. Hasilnya tidak main-main: dua jalur sekaligus dibuka, energi dan perdagangan, dengan komitmen yang lebih konkret dibanding pertemuan serupa sebelumnya.

Dari sisi energi, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung bertemu langsung dengan manajemen Joint Stock Company Zarubezhneft, BUMN migas asal Rusia yang sudah lama terlibat di Indonesia. Agendanya satu: memastikan Blok Tuna di Laut Natuna benar-benar bergerak lagi. "Kami bertemu dengan Zarubezhneft dan membahas kelanjutan proyek Blok Tuna yang masih tertunda. Zarubezhneft menyatakan komitmennya untuk melanjutkan proyek tersebut pada Juni bulan depan. Pemerintah akan memberikan dukungan untuk kelanjutan proyek ini," ujar Yuliot dalam keterangan resmi Kementerian ESDM, Jumat (15/5/2026).

Blok Tuna sempat jalan di tempat setelah Premier Oil, anak usaha Harbour Energy yang menjadi mitra Zarubezhneft, memilih mundur. Zarubezhneft sendiri masuk ke Indonesia sejak 2020, ketika anak usahanya ZN Asia Ltd mengakuisisi 50 persen participating interest di blok tersebut. Lima tahun menunggu bukan waktu yang singkat. Pasar, kalau data ini bisa dipercaya, agaknya akan mencermati apakah target Juni ini benar-benar terealisasi atau sekadar janji Kazan berikutnya.

Selain Blok Tuna, Zarubezhneft juga menyatakan ketertarikan merambah proyek-proyek migas lain di Indonesia, khususnya lewat teknologi Enhanced Oil Recovery dan reaktivasi sumur idle. Ketertarikan itu sudah tercatat resmi dalam dokumen Agreed Minutes Sidang Komisi Bersama ke-14 RI-Rusia. Pihak Rusia turut meminta dukungan penyelesaian proses compliance bagi perusahaan yang dinominasikan Zarubezhneft guna mengatur suplai minyak ke Indonesia.

Di front perdagangan, ceritanya tidak kalah menarik. Wamendag Dyah Roro Esti bertemu dengan Deputy Minister of Economic Development Rusia Vladimir Ilyichev pada Selasa (12/5) di kota yang sama. Data yang dibawa Roro cukup mencolok: nilai perdagangan bilateral 2025 menembus 4,8 miliar dolar AS, naik 21,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Meledak, untuk ukuran hubungan dagang dua negara yang selama ini tidak terlalu vokal.

Rusia kini berstatus mitra utama Indonesia di kawasan Eurasian Economic Union, menyumbang 90,6 persen dari total perdagangan Indonesia dengan blok ekonomi tersebut. Polanya saling melengkapi secara klasik: Rusia memasok batu bara, pupuk, dan produk baja, sementara Indonesia mengirim sawit, kopi, kelapa, dan kakao ke pasar Rusia. "Indonesia menyambut baik meningkatnya kepercayaan pasar Rusia terhadap berbagai produk unggulan nasional," kata Roro dalam keterangan resminya.

Satu perkembangan yang patut dicermati investor: akselerasi ratifikasi Indonesia-EAEU Free Trade Agreement. Perjanjian ini sudah ditandatangani Desember 2025 di St. Petersburg, dan pemerintah kini mematok target implementasi di kuartal III atau IV 2026. Untuk melengkapi kerangka ini, Indonesia mengusulkan pembentukan Indonesia-EAEU Business Council bersama Kadin. Pertanyaannya, apakah dewan ini akan punya taji nyata atau sekadar forum seremonial? "Pembentukan Indonesia-EAEU Business Council diharapkan dapat menjadi katalis dalam memperkuat hubungan antarpelaku usaha," ujar Roro, setidaknya itu janjinya.

Indonesia juga membuka peluang kerja sama jasa, menawarkan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi, konstruksi, perhotelan, dan teknologi digital. Roro bahkan mengundang pengusaha Rusia hadir di Trade Expo Indonesia Oktober 2026 di Banten, 14-18 Oktober.

Dua pertemuan, dua sektor, satu arah. Bisa jadi ini momentum terbaik hubungan RI-Rusia dalam beberapa tahun terakhir, klaim yang tentu masih perlu dibuktikan lewat realisasi di lapangan, bukan di ruang sidang Kazan.