SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  RI-Rusia Makin Mesra: Dari Blok Tuna hingga Nuklir...

Ekonomi

RI-Rusia Makin Mesra: Dari Blok Tuna hingga Nuklir dan FTA EAEU

Kerja sama Indonesia-Rusia menguat di berbagai lini, mulai dari komitmen Zarubezhneft melanjutkan Blok Tuna pada Juni, eksplorasi energi nuklir bersama Rosatom, hingga nilai perdagangan bilateral yang menembus 4,8 miliar dolar AS sepanjang 2025.

Indonesia Perkuat Kerja Sama Perdagangan dengan Rusia

Nilai perdagangan Indonesia-Rusia sepanjang 2025 menembus 4,8 miliar dolar AS, naik 21,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Bukan sekadar statistik bilateral biasa, angka itu sinyal bahwa kedua negara sedang membangun fondasi ekonomi yang lebih serius, dan kunjungan kerja ke Kazan pekan ini salah satu buktinya.

Di sela Sidang Komisi Bersama ke-14 RI-Rusia Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik yang berlangsung di Kazan, Wakil Menteri ESDM Yuliot bertemu langsung dengan pejabat Joint Stock Company Zarubezhneft. Hasilnya: perusahaan migas pelat merah Rusia itu menyatakan komitmen untuk melanjutkan penggarapan Blok Tuna di Laut Natuna pada Juni mendatang, setelah proyek ini sempat terkatung-katung akibat hengkangnya Premier Oil, anak usaha Harbour Energy, yang sebelumnya menjadi mitra mereka.

"Kami bertemu dengan Zarubezhneft dan membahas kelanjutan proyek Blok Tuna yang masih tertunda. Zarubezhneft menyatakan komitmennya untuk melanjutkan proyek tersebut pada Juni bulan depan," ungkap Yuliot dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Zarubezhneft bukan pemain baru di sini. Perusahaan ini masuk ke Indonesia sejak 2020 lewat akuisisi 50 persen participating interest di Proyek Tuna melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd. Mundurnya Harbour Energy jelas memukul jadwal proyek, tapi agaknya tidak cukup untuk membuat Zarubezhneft angkat kaki. Bahkan dalam pertemuan di Kazan itu, mereka menyatakan ketertarikan untuk merambah proyek migas lain di Indonesia, termasuk melalui teknologi Enhanced Oil Recovery dan reaktivasi sumur-sumur idle. Ketertarikan ini sudah tercatat resmi dalam dokumen Agreed Minutes SKB ke-14.

Hubungan kedua negara tidak berhenti di hulu migas. DPD RI turut mendorong penguatan kerja sama energi nuklir bersama Rosatom sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi jangka panjang Indonesia.

Rusia kini menjelma menjadi mitra dominan Indonesia di kawasan Eurasian Economic Union, dengan kontribusi 90,6 persen dari total perdagangan Indonesia dengan blok ekonomi tersebut. Komposisi dagangnya bersifat saling mengisi: Rusia memasok batu bara, pupuk, dan produk baja ke Indonesia, sementara Indonesia mengekspor minyak sawit, kopi, produk kelapa, dan kakao ke pasar Rusia. Cukup untuk saling ketergantungan.

"Kami ingin memastikan momentum ini dapat terus diperkuat melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan dan kerja sama investasi yang lebih luas," jelas Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti di forum yang sama.

Indonesia juga menargetkan implementasi Indonesia-EAEU Free Trade Agreement pada kuartal III atau IV 2026. Untuk mendukung realisasi perjanjian itu, Jakarta mengusulkan pembentukan Indonesia-EAEU Business Council yang akan dijalankan bersama Kadin Indonesia. Kalau ini berjalan mulus, bisa jadi katalis bagi pelaku usaha kedua negara yang selama ini masih bermain di permukaan potensi yang sesungguhnya jauh lebih dalam.

Kerja sama di sektor jasa pun ikut dibuka, mencakup teknologi informasi, konstruksi, perhotelan, hingga teknologi digital. Indonesia juga mengundang pengusaha Rusia untuk hadir di Trade Expo Indonesia 2026, yang dijadwalkan berlangsung 14-18 Oktober di Banten.

Dengan pipeline proyek energi yang mulai bergerak, FTA yang segera diimplementasikan, dan nilai perdagangan yang konsisten naik dua digit, hubungan RI-Rusia sedang bergerak dari sekadar diplomasi hangat menuju kemitraan ekonomi yang punya gigi. Apakah momentumnya cukup kuat untuk bertahan dari tekanan geopolitik global yang masih membayangi? Itu pertanyaan yang patut dicermati investor.