Hubungan Indonesia-China sedang bergerak ke level berikutnya. Bukan sekadar dagang dan investasi seperti biasanya, tapi kini mencakup penguasaan teknologi, pertahanan, hingga mekanisme dialog diplomatik baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Pada pertengahan Juli lalu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao di sela-sela World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai. Agenda pertemuannya padat: perdagangan, investasi, ekonomi digital, rantai pasok, evaluasi implementasi MoU investasi senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp40,5 triliun, sampai peluang penguatan kawasan industri di Batam.
Yang paling tajam dari pertemuan itu justru soal transfer teknologi. James Karnadi, Senior Advisor on Global Technology Cooperation Kemenko Perekonomian yang turut mendampingi Airlangga, menegaskan bahwa setiap investasi strategis dari China harus diikuti penguatan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, dan kualitas SDM Indonesia. "Kita tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi harus berkembang sebagai pusat industri dan inovasi," ujarnya.
Angka-angkanya memang bukan main. Sepanjang 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia-China menembus 167,48 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia tumbuh 16,7 persen. Jika ditambah Hong Kong, total investasi gabungan keduanya di Indonesia tahun lalu menyentuh sekitar 18 miliar dolar AS. Justru karena angkanya sebesar ini, narasi "jangan cuma jadi pasar" terasa bukan sekadar retorika.
Program Two Countries, Twin Parks turut masuk pembahasan, termasuk peluang memperkuat konektivitas kawasan industri Indonesia dengan pusat produksi dan teknologi di China. James menyebut bahwa dunia usaha, generasi muda, dan diaspora perlu dilibatkan agar kesepakatan tingkat tinggi tidak berhenti di atas kertas. "Diplomasi ekonomi tidak berhenti di meja pertemuan. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan kita menerjemahkan kesepakatan politik menjadi proyek nyata, kesempatan kerja, akses pasar, dan peningkatan kemampuan industri nasional," tegasnya. Kalimat yang, agaknya, lebih mudah diucapkan daripada dibuktikan.
Babak berikutnya sudah di depan mata. Menlu Wang Yi dijadwalkan berkunjung ke Jakarta pada 20-22 Agustus 2026. Tanggal 21 Agustus jadi hari yang padat: berlangsung sekaligus Pertemuan ke-1 Dialog Strategis Komprehensif (CSD) Indonesia-Tiongkok, mekanisme bilateral baru di tingkat menlu yang dibentuk saat kunjungan Menlu Sugiono ke Beijing pada April 2025, dan Pertemuan ke-2 Dialog 2+2, forum bersama antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara. Fokusnya: penguatan kerja sama politik, pertahanan, dan keamanan.
Dua forum besar. Satu hari. Bisa jadi ini memang sinyal bahwa Jakarta ingin mempertegas bobotnya dalam relasi dengan Beijing, bukan hanya sebagai mitra dagang, tapi juga sebagai mitra geopolitik yang diperhitungkan.
Bagi investor yang memegang saham di sektor manufaktur, kawasan industri, atau perusahaan yang terekspos ke rantai pasok China, perkembangan ini patut dicermati. Realisasi transfer teknologi dan percepatan program Twin Parks, kalau benar-benar berjalan, bisa menjadi katalis jangka menengah yang selama ini masih sebatas wacana.